Seperti pagi-pagi sebelumnya, Kimin selalu datang lebih pagi dari Si Bos. Menyiapkan semua peralatan dan perlengkapan untuk membuat secangkir kopi untuk Si Bos; serta memanaskan air. Kimin selalu memanaskan air tepat waktu; dengan porsi kecil dalam sebuah wadah, dan dipanaskan diatas kompor dengan api kecil. Hal itu dimaksudkan agar saat Si Bos datang, saat itu juga air mendidih dan siap digunakan untuk menyeduh kopi instan untuk Si Bos. Setelah beberapa kali melihat jam di tangan kirinya, akhirnya Kimin yakin bahwa orang yang ditunggu-tunggunya akan segera hadir, "Sembilan kurang sepuluh. Sip! Bentar lagi dateng nih.". Kimin sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira yang didapat dari tetangganya, pagi ini.
Tak lama setelah terakhir kali Kimin melihat jam di tangan kirinya, Si Bos datang bersama Bu Rina, serta serombongan manusia-manusia dari divisi desain, marketing, dan lain-lain. Kumpulan manusia itu berjalan berbondong-bondong; dihiasi lembaran-lembaran yang dengan sengaja di pamerkan di depan muka Si Bos. Semuanya itu diiringi oleh ocehan Bu Rina yang terus menerus membacakan jadwal-jadwal Si Bos serta informasi-informasi penting yang harus disampaikan kepada Si Bos. Kimin hanya duduk di kursi khususnya, sambil bersiap menghadapi tugas paginya. Rombongan itu berjalan menuju ke ruangan direktur. Tepat di depan pintu ruang direktur, rombongan tersebut berhenti dari langkah-langkahnya; serta ocehannya. Semuanya membeku; kecuali Si Bos yang sudah siap melihat ke arah kiri sambil mengumbar senyum. Lalu saat-saat yang ditunggu Kimin datang, "Miiiiiiiin......!!" teriak Si Bos. Dengan semangat layaknya pahlawan pembela kebenaran, Kimin menjawabnya, "Ya Boooooos....?". Si Bos semakin lebar senyumnya. Lalu terdengarlah kata-kata dari Si Bos kepada Kimin, "Kopi Miiiiiiiiin......". Kimin melontarkan senyumnya sambil menjawab, "Siap Booooooooos.......". Dan berlalulah rombongan itu memasuki ruangan direktur, dan satu-persatu mulai keluar setelah mendapatkan tanggapan dari Si Bos. Di dalam pantry, Kimin memainkan jari-jarinya di atas cangkir aluminium. Memutarnya searah jarum jam, kadang berlawanan. Kimin sudah sangat terbiasa dengan tugas itu. Jelas saja terbiasa, karena setiap pagi Kimin melakukan tugas dan "password" yang sama; "password" yang vital; yang bisa saja membuat Kimin dikeluarkan dari perusahaan ini kalau-kalau Kimin salah mengucapkan walau satu kata.
"Tok..Tok..", "Permisi Boooos...." ucap Kimin. Tak lama sesudahnya Kimin masuk ke ruang direktur untuk menaruh secangkir kopi hangat yang baru saja ia bikin. Sesampainya di dalam, mata Kimin menerawang ke seluruh ruangan. Di temuinya hanya Bu Rina yang ada di dalam ruangan itu. "Si Bos kemana Bu?" tanya Kimin sembari meletakkan cangkir kopi di meja Si Bos. Bu Rina yang saat itu sedang memeriksa laporan keuangan jadi terbuyarkan konsentrasinya. Sambil terus menatap ke kertas-kertas yang dipegangnya, Bu Rina menjawab pertanyaan Kimin, "Ke WC bentar..", "Ooh.." jawab Kimin singkat. Tak lama Kimin bertanya lagi, "Ngapain Bu ke WC?". Bu Rina tetap tidak mengalihkan pandangannya dan menjawab, "Tau deh.. Pipis kali..", "Ow.." jawab Kimin. Kemudian Kimin mengambil serbet yang ada di pundaknya dan mulai mengelap coffee table, "Si Bos udah baca koran ini Bu?". Bu Rina tetap saja tidak teralihkan perhatiannya dan menjawab Kimin sambil lalu, "Belom.", "Ooh.. Oke.. Saya nunggu Si Bos deh.". Lantas Kimin duduk di sofa dekat coffee table. Sambil menunggu kedatangan Si Bos ke ruangan itu, Kimin mencoba untuk mengisi waktu kosongnya dengan berbincang dengan Bu Rina, "Si Bos ke WC belah mana Bu?" tanyanya. "Tau.. Yang deket sini kali." jawab Bu Rina. Lalu Kimin bertanya lagi, "Si Bos nggak sekalian buang air besar Bu?". Akhirnya Bu Rina melepaskan pandangannya dari kertas yang dipegangnya. Dipandangnya Kimin dengan mata kesal, "Nggak tau Miiiiin.... Min, ayo main tebak-tebakan!". Kimin antusias sekali menanggapai ajakan Bu Rina, "Boleh!" katanya semangat. "Oke.. Aku mulai duluan ya." kata Bu Rina, "Makhluk apa yang udah pernah diciptain Tuhan buat ngegangguin orang yang lagi serius meriksa laporan keuangan?" tanya Bu Rina. Kimin kecewa dengan pertanyaan itu, "Itu kan tebak-tebakan kemaren, kemarennya lagi, kemarennya lagi ama kemaren yang dulu Bu.. Pasti jawabannya Kimin kan?!". Bu Rina semakin kesal menghadapi OB Super Istimewa ini. "Oke.. Kalo gitu kita gak jadi maen tebak-tebakan. Kita maen tantangan aja. Mau?" tantang Bu Rina kepada Kimin. Dengan muka penuh semangat, Kimin menjawab, "Wah! Boleh boleh..!! Saya mulai duluan ya Bu?". Bu Rina cepat menggagalkan usaha Kimin, "Eit.. Nggak bisa.. Perempuan duluan. Ladies first. Oke?". Kimin hanya mengiyakan dengan kecewa. "Oke. Tantangan buat kamu adalah, coba untuk diam seribu bahasa hingga Si Bos datang. Kalo lolos, kamu boleh kasih saya tantangan. Oke?" tantang Bu Rina kepada Kimin. Karena tak mau dilecehkan, Kimin menerima tantangan itu, "Oke! Siapa takut..". Kemudian Bu Rina mulai menghitung mundur, "Tiga.. Dua.. Satu, mulai!". Dan benar saja, Kimin diam seribu bahasa, Bu Rina berhasil membuat Kimin bungkam, dan konsentrasi Bu Rina pulih kembali. Tak lama setelahnya, pintu ruang direktur dibuka. Muncul seorang pemuda dengan sepatu kulit berwarna hitam, celana bahan warna hitam, kemeja hitam bergaris abu-abu gelap, serta dasi hitam yang dilengkapi penjepit dasi bernuansa chrome. Tangannya sedang memegang sapu tangan dan terlihat sedikit percikan air di lengannya. Sambil berjalan pasti menuju ke meja, ia berseru, "Eh ada Kimiiiiiiin..... Kopi gue mana?". Kimin membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, "Udah lulus Buuuuu.....!" lalu Kimin melanjutkan, "Tuh udah di meja Bos.". Si Bos menjawab, "Mantab!". Kimin melontarkan pandangannya kepada Bu Rina dan bertanya, "Nah.. Udah Bu.. Sekarang giliran saya kasih tantangan ke Bu Rina oke? Tantangannya adal...". "Stop Min!" sambar Bu Rina memotong ucapan Kimin, "Kalo jam kerja ya kerja. Jangan main-main. Oke?". Kimin masih menahan kalimat tantangan itu di mulutnya. Pelan-pelan ia telan kembali kalimat itu, dan kesal kepada Bu Rina karena merasa dirinya dicurangi, "Bu Rina curang.. Ntar cantiknya ilang...", "Biarin. Wek!" jawab Bu Rina sambil menjulurkan lidahnya kepada Kimin. Kimin juga menjulurkan lidahnya kepada Bu Rina, "Wek!". Melihat kelakuan kedua orang di hadapannya, Si Bos menanggapi "Min..". Kimin langsung menjawab, "Ya Bos?", "Wek!" jawab Si Bos sambil menjulurkan lidahnya ke Kimin. Belum sempat Kimin membalas, Si Bos sudah berpaling ke Bu Rina, "Hmmm... Rina?", Bu Rina menanggapinya, "Ya Bos?". Si Bos memandangi wajah Bu Rina dan, "Wek!". Seketika Bu Rina membalas, "Wek!". Lalu mereka bertiga tersenyum terhadap dirinya sendiri. Si Bos bertanya-tanya dalam hati, "Di kantor lagi musin kontes melet kali ya?".
Setelah selesai membaca koran pagi, Kimin mulai membuka pembicaraan dengan Si Bos, "Bos.. Saya ada kabar gembira Bos.". Lalu Si Bos menanggapi, "Kabar gembira apaan? Warteg depan bikin menu baru?". Kimin menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bukan Boooos... Kalo itu mah bukan urusan saya.", "Trus apaan?" tanya Si Bos kepada Kimin. Lalu Kimin menjelaskan, "Sekarang katanya mau di bikin WC umum di kampung saya Bos. Kan kampung saya kecil, nggak semua rumah punya kamar mandi. Nah pemerintah mau bikin kamar mandi umum.". Si Bos menanggapi, "Wah.. Bagus donk. Bisa cuci motor gratis.". Kimin langsung menjawab, "Ah kok malah cuci motor. Yang penting tuh bisa mandi Bos.. Bukannya cuci motor!". Si Bos hanya terkekeh mendengar tanggapan Kimin. Lalu mengingat kejadian adu melet tadi pagi, Si Bos bertanya kepada Kimin, "Eh Min, tadi emang ada apaan sih kok melet-meletan ama Bu Rina?". Lalu Kimin menjelaskan dengan muka agak kesal, "Itu tuuuuh.. Bu Rina tuuuuh... Tadinya kan Bu Rina mau ngajakin tebak-tebakan, nah saya semangat.. Eeh.. Malah saya diboongin ama Bu Rina.". Si Bos malah menyalahkan Kimin, "Lagian elu mau aja diboongin.". Belum sempat Kimin menanggapi, Si Bos sudah melanjutkan, "Eh Min, mainan tebak-tebakan yuk!". Dengan muka yang tetap kesal, Kimin menjawab, "Ogah ah! Ntar gantian Si Bos yang boongin saya!". Si Bos langsung membela dirinya, "Yeee... Enggak. Gue orangnya baek, nggak kayak Bu Rina." lalu Si Bos mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sambil berkata, "Sueeeer... Gue mah orang baek Miiiin....". Masih tidak percaya akan hal itu, Kimin memastikan, "Beneran ya?". Si Bos menganggukkan kepalanya. Melihat Si Bos berkata jujur, Kimin mengiyakan, "Yaudah.. Apa tebakannya Bos?" tanya Kimin kepada Si Bos. Si Bos langsung tersenyum bahagia sambil melontarkan tebakan kepada Kimin, "Niiiih.... Apa, yang kalo masuk gak bayar, tapi keluarnya bayar Min?". Kimin langsung menjentikkan jarinya sambil berkata, "Ah itu mah keciiiiiil..... WC umum Bos! Kalo orang masuk kan gak bayar, tapi kalo keluar baru ditarik duit. Ya kan?". Si Bos membenarkan, "Hehe.. Tau aja lo..". Kimin bangga akan dirinya yang bisa mengungguli Bosnya. Kemudian Si Bos melontarkan kesempatan berikutnya kepada Kimin, "Sekarang giliran lo Min..". Sebelum melayangkan tebakannya, terlebih dahulu Kimin bertanya, "Tapi kenapa kamar mandi umum itu bayar ya Bos? Kenapa gak gratis aja gitu. Kan katanya di mana-mana banyak tulisan 'dilarang kencing di sini'. Tapi kalo orang mau kencing, malah dibebani suruh bayar.". Mouse komputer terus bergerak kesana kemari mengikuti kehendak tangan Si Bos, "Ya namanya juga fasilitas umum Min. Kalo nggak bayar ya kasian yang kasih fasilitas kan. Biaya perawatannya dari mana, biaya aernya, biaya ini, itu..". Kimin bertanya lagi, "Kalo gitu, kenapa itu nggak dibikin jadi fasilitas negara aja Bos? Biar negara aja yang tanggung duitnya..". Si Bos dengan sabar menjelaskan, "Ya mau fasilitas negara juga kita tetep kudu bayar Min.". Kimin bertanya heran, "Loh? Kok gitu?". Si Bos melanjutkan, "Ya iya lah.. Bus, angkot, metromini kan juga punya negara. Tapi kalo kita mau pake fasilitasnya ya kudu bayar. Telepon juga milik negara. Tapi kalo kita mau telepon juga kudu bayar. Ya kan?". Belum puas dengan jawaban itu, Kimin bertanya lagi, "Kalo Kartu Keluarga Bos, kenapa gratis?". Si Bos nyengir sambil menjawab, "Yang gratis itu kan KK yang buatnya di tempat orang bener. Kalo orangnya nggak bener ya bayar Min. Mahal lagi.. Lagian kita tu kalo disuruh bayar-bayar gitu jangan kesel Min.. Harusnya malah bangga." lanjutnya sambil menyeruput lagi kopinya. Kimin tidak menghiraukan karyawan yang lalu-lalang; silih berganti masuk keluar ruangan direktur. Kimin tetap berusaha menjawab rasa penasarannya, "Kok malah bangga? Disuruh bayar kok bangga..!". Si Bos bercakap-cakap sebentar dengan karyawan yang baru saja menyodorkan laporan produksi hari kemarin. Selesainya itu, Si Bos menjawab Kimin, "Bangga doooonk.... Kalo kita nggak bayar, siapa lagi yang mau ngegaji mereka-mereka itu? Duit pajak kan buat bayarin petugas pajak. Otomatis kita yang ngasih gaji ke mereka kan? Ya kan?". Kimin manggut-manggut seperti mainan Scooby-Doo yang biasa ditempel di dashboard mobil-mobil. "Yaudah kalo gitu, gantian saya yang nanyain Si Bos." kata Kimin semangat. "Sooook atuuuh (Silakaaaaan.red)" jawab Si Bos. Kimin berharap pertanyaan ini adalah pertanyaan luar biasa, "Nah sekarang apa yang kalo masuk bayar, keluarnya gak bayar Bos?". Sekarang giliran Si Bos yang menjentikkan jari, "Keciiiiiil..... Banyak kalo itu mah! Nonton bioskop, nonton sirkus, ke Dufan, masuk PRJ. Banyak Miiin...". Kimin kecewa karena Si Bos dengan mudah menjawab tebakannya, "Ah Si Bos pinter sih.. Kalo ditanya jadi bisa jawab. Gak seru ah..!!". Si Bos tertawa bahagia. Namun kini giliran Bu Rina yang ingin menguji kecerdasan Si Bos, "Saya ikutan Bos! Saya ada tebakan nih!" katanya bersemangat. "Boleeeeh....." jawab Si Bos menanggapi Bu Rina. Lalu Bu Rina meletakkan ponselnya di meja; di dekat Si Bos, "Apa yang masuknya bayar, keluarnya bayar? Hihi.. Pasti pada nggak bisa jawab deh.". Si Bos tersenyum sambil berkata, "Bukannya mau sombong nih Rin, tapi saya mau kasih kesempatan dulu ke Kimin. Kali-kali aja dia bisa jawab. Gimana Min, bisa gak lu?!". Bu Rina mengalihkan pandangannya kepada Kimin dengan muka penuh harap. Pandangan Kimin mulai menerawang ke langit-langit, tanda ia sedang berpikir. Setelah sekian lama, akhirnya Bu Rina bertanya lagi, "Gimana Min, tau nggak?". Kimin menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian Bu Rina ganti bertanya kepada Si Bos, "Si Bos juga nggak tau kaaaaan? Hihi..". Dengan muka sombong, Si Bos menjawab, "Itu gampaaaaang....". Bu Rina mengujinya dengan bertanya, "Coba apa jawabannya?". "Ke Dufan naek mobil sendiri. Betul kan?" jawab Si Bos pasti. Bu Rina bertepuk tangan, "Horeee... Bener. Hihi..". Kimin bertanya kembali, "Loh? Kok bisa? Ke Dufan kan udah jawaban yang tadi?!". Bu Rina menjelaskan, "Ini beda Miiin... Ini kan naek mobil pribadi. Jadi masuk bayar tiket Dufan, keluar bayar parkir deh." jawabnya sambil tersenyum. Kimin mengiyakan. Kemudian Kimin menimpali, "Giliran saya!". Bu Rina dan Si Bos menjawab serentak, "Boleeeeeh.....!". Sambil membetulkan posisi duduknya, Kimin bertanya, "Apa yang masuk nggak bayar, keluar juga nggak bayar?! Hayo siapa bisa! Haha!". Belum sempat Si Bos menjawab, seorang karyawan masuk ke ruangan direktur sambil berkata, "Pak, meetingnya hampir dimulai. Silakan Pak..". Si Bos segera menjawab, "Oke. Makasih ya.". Lalu orang itu meninggalkan pintu, diiringi oleh Bu Rina yang bersiap membawa berkas-berkas penting untuk dibahas di meja rapat. Saat Si Bos membuka pintu ruangan direktur, Kimin menarik lengan baju Si Bos, "Ntar dulu dong Bos! Kan belum dijawab..". Si Bos menjawab dengan cepat, "Mau ke pantry kek, mau ke parkiran di bawah kek, mau ke ruangan gue kek, mau kemana aja di kantor ini juga masuk ama keluarnya kaga bayar Min!". Lalu Si Bos berlalu diikuti Bu Rina di belakangnya. Di dalam ruangan itu Kimin bengong sendirian. Kimin meratapi nasib yang tidak berhasil mengungguli permainan tebak-tebakan bersama Si Bis dan Bu Rina.
Saat langit putih berubah keemasan, dan Kimin masih setia menunggu kedatangan Si Bos dan Bu Rina di ruangan direktur; satu-persatu karyawan sudah bersiap untuk pulang. Beberapa diantaranya sedang membersihkan meja kerjanya dari serakan kertas-kertas. Beberapa yang lain sedang mematikan komputer, dan beberapa OB sudah mulai membersihkan lantai dan jendela. Kantor ini selalu dibersihkan dua kali dalam sehari, yaitu sesaat sebelum para karyawan datang, dan sesaat sebelum karyawan pulang. Kadang kala jika musim hujan, para OB harus setia berkawan dengan lap pel untuk selalu menghapus jejak kaki bercampur air dan lumpur di pintu masuk. Jika musim kemarau tiba, para OB setia berkeliling kantor untuk menyapu tiap petak lantai di lobby karena debu berterbangan memasuki ruangan itu. Di halaman depan kantor ini sudah tertanam pohon-pohon tinggi karena Si Bos sangat menyukai pemandangan yang hijau asri. Selain itu, pohon-pohon tinggi dapat menghalau angin yang kencang. Kadang kala Si Bos menyempatkan diri untuk melihat-lihat halaman depan kantor ini. Walau hanya sekedar berkeliling di halaman kantor, namun hal itu sudah membuat hatinya lebih tenang. Maklum, tinggal di apartment harus siap untuk menerima konsekuensinya, yaitu tidak memiliki taman pribadi. Lain soal jika hidup di lantai paling atas.
Serbuk kopi bercampur gula dan krimer telah tertuang kembali ke dalam cangkir aluminium. Lalu disusul oleh percikan air hangat mengoyakkan serbuk-serbuk itu. Sebuah sendok kecil ikut menyelam ke dalamnya, dan membuat tarian bersama air hangat dan serbuk. Kemudian semuanya itu bercampur dan membuahkan warna kecoklatan yang indah. Dengan menuang air dingin untuk menghangatkannya, maka selesailah sudah racikan kopi hebat itu. Segera seorang OB Istimewa menaruh cangkir itu di atas nampan, dan mengantarkannya ke ruangan Si Bos. Setelah berucap permisi, Kimin masuk dengan sopan, dan meletakkannya di atas meja kerja Si Bos. "Tengkyu Min.." kata Si Bos kepada Kimin. Bu Rina sudah dalam posisi santai di sofa, sambil kembali membaca proposal yang baru diterimanya dari meeting tadi siang. "Srupuuuuuth...!!!" suara itu terdengar begitu saja, "Aaaaaah.... Manteb bneeeeerrr...". Kimin menghampiri coffee table, dan segera meraih koran sore. Namun belum lama Kimin membaca, koran itu sudah kembali diletakkan di coffee table. Si Bos bertanya, "Kenapa lu? Kok tumben kaga dibaca ampe kelar? Biasanya lu semangat baca koran dah?". Kimin menjawab dengan malas-malasan, "Ah.. Apaan.. Dari kemaren-kemaren koran kok isinya cuman pornografi, anak ilang, orang bunuh diri, ama berantem gara-gara kalah tarohan bola. Beritanya jadi gitu-gitu doang. Gak seru!". Mendengar hal itu Bu Rina tersenyum kecil. Tidak bisa disangkal, memang akhir-akhir ini berita yang menonjol hanya itu-itu saja. Seolah-olah masyarakat lebih peduli pada aksi porno daripada pertandingan sepak bola dunia. Lain halnya dengan pemerintah, mereka lebih fokus kepada hal-hal baru, dan melalaikan hal-hal penting yang sudah lama berlalu. Kisah tragis lumpur di daerah timur juga belum ada titik terang. Sekolah gratis dan problematika UN juga tak kunjung surut. Namun pemerintah memang lebih suka untuk meluruskan hal-hal baru, daripada hal-hal lama. Dengan demikian, orang-orang yang "nakal" akan berpikiran untuk membuat sebuah masalah besar, lalu memperpanjang proses hukumnya. Sehingga pemerintah akan segera lupa akan hal itu. Sebuah celah yang menarik bagi para "orang nakal". Untuk sekedar menghibur Kimin agar melupakan kejenuhannya akan surat kabar akhir-akhir ini, Si Bos menghiburnya dengan melanjutkan sesi tebak-tebakan yang sempat tertunda tadi siang, "Gimana kalo kita tebak-tebakan aja lagi? Hehe..". Bu Rina langsung menanggapinya dengan semangat. Begitu juga Kimin, ia langsung membenarkan posisi duduknya agar terlihat lebih serius, "Siaaaaap.... Siapa yang mau ngasih tebakan nih? Saya nggak punya tebakan lagi euy! Bu Rina mungkin?". Bu Rina langsung menanggapi, "Ah kamu sih ada atau nggak ada tebakan juga nggak ngaruh. Tebakan kamu kurang bermutu sih Min.". Si Bos langsung tertawa kencang mendengar hal itu terlontar dari mulut Bu Rina. Namun dengan segera Bu Rina menepuk-nepuk pundak Kimin, pertanda bahwa kata-katanya hanyalah untuk menggoda Kimin, "Nggak Miiiin.. Becanda.. Hihihi.. Saya nggak ada tebakan nih. Si Bos aja deh!". Si Bos masih terkekeh mendengar ejekan Bu Rina kepada Kimin, "Hehe.. Bu Rina jahat. Hehehe.. Yaudah, gue aja yang kasih tebakan. Ehm!". Kemudian Si Bos menaruh tangannya pada meja. Sambil menyondongkan badannya ke depan; ke arah Kimin dan Bu Rina, Si Bos memulai tebakannya, "Nah tadi kan udah ketebak apa yang masuk bayar, keluar gak bayar. Trus masuk gak bayar tapi keluar bayar juga udah.. Masuk bayar keluar bayar juga udah. Trus terakhir kan yang masuk gak bayar, keluar juga gak bayar juga udah. Nah sekarang tebakannya gini.. Apa yang masuk bayar, di dalem dibayar, keluarnya bayar, ama dibayar. Apa ayoooo....". Bu Rina langsung berpikir. Otaknya benar-benar bekerja. Lain halnya dengan Kimin, dia malah bertanya sekali lagi karena belum mengerti benar pertanyaanya, "Gimana Bos? Ulangin ulangin..". Si Bos mengulang lagi pertanyaannya, "Apa yang kalo masuk bayar, di dalem dibayar, pas keluar bayar ama dibayar. Apa?". Kemudian ruangan itu menjadi sepi dan hanya dihiasi oleh senyum dari Si Bos. Bu Rina sudah terdiam, jarinya diletakkan di bibirnya, dan matanya melihat jauh ke lantai. Otaknya berpikir akan jawaban teraneh apa yang akan dilontarkan Si Bos. Sedangkan Kimin duduk bersandar. Tangannya dilipat di depan dada, dan matanya menerawang jauh melihat ke langit-langit. Mulutnya komat-kamit untuk mengucapkan beberapa kemungkinan jawaban. Kesunyian itu menyelimuti ruangan cukup lama. Tiba-tiba suara Si Bos memecah kesunyian itu, "Nyerah?". Bu Rina mengangguk pelan dan mengakhiri pikirannya. Kimin juga menganggukkan kepalanya karena menyadari kepintarannya tidak mencapai ke tahap itu, "Apaan Bos jawabannya?" tanya Kimin penasaran. Si Bos menjawab, "DPR.". Bu Rina langsung menyipitkan matanya, "DPR?" tanyanya. Si Bos hanya menjawab sambi tersenyum, "Iya.". Lalu Kimin melanjutkan pertanyaan Bu Rina, "Kok bisa DPR Bos?". Kemudian Si Bos bengkit dari tempat ia duduk, dan mengambil posisi duduk di dekat Kimin, "Geser Min..". Kimin berpindah posisi duduknya mendekati Bu Rina, dan memberikan ruang duduk kepada Si Bos. Pelan-pelan Si Bos menjelaskan, "Ehm! Gini.. Kenapa DPR? Coba liat orang kalo mau jadi anggota DPR kan kudu bayar.". Kimin bertanya, "Bayar apaan Bos?". Si Bos menjawab, "Dana promosi pemilu? Dana hiburan buat petinggi fraksi? Dana sogokan buat rakyat? Belum lagi kalo mau beli kertas suara palsu..". Kimin mengangguk lalu bertanya, "Trus, kalo di dalem kok di bayar?". Si Bos menjawab lagi, "Kan kalo jadi anggota DPR digaji Min.. Jadi mereka dibayar.. Diigaji.. Belom lagi amplop-amplop. Kan dibayar juga tuh namanya.". Kimin mulai tersenyum gembira. Bu Rina menimpali dengan pertanyaan, "Trus? Kalo keluar kok bayar ama dibayar Bos?". Si Bos tersenyum lebar dan menjawab, "Kalo sampe dikeluarin, kan harus bayar pengacara..". "Hahahahahahahaha....." Bu Rina dan Kimin tertawa sekencang-kencangnya. Si Bos melanjutkan lagi, "Belom lagi bayar hakimnya. Ya lumayan laaaaah... Buat uang senang-senang si hakim biar terdakwa gak berat beban hukumannya.". Semakin keras lagi tawa Bu Rina dan Kimin. Mereka senang sekali jika mendengar Si Bos sedang membicarakan hal-hal macam ini. Sepuasnya tertawa, Bu Rina bertanya lagi, "Tadi kan bilangnya kalo keluar bayar ama dibayar kan Bos? Nah kalo bayar kan bayar pengacara, hakim, ama saksi palsu tuh. Hehe.. Kalo dibayar, gimana penjelasannya tuh Bos?". Si Bos memulainya, "Oo.. Kalo itu gini nih..". Bu Rina dan Kimin langsung memasang tampang serius. Si Bos menjawab, "Kan dibayar ama temen-temennya yang lain Riiiiin....". Kimin bingung, "Di bayar temen-temennya Bos?? Maksudnya??". Si Bos menjawabnya, "Sini sini..!!". Kemudian Bu Rina dan Kimin mendekatkan telinganya ke Si Bos. Dengan berbisik, Si Bos menjelaskan, "Kan dibayar ama temen-temennya buat uang tutup mulut. Biar yang lain gak ikut-ikutan ketangkep.". Bisikan itu membuka tawa Bu Rina dan Kimin. Tawa mereka lepas selepas-lepasnya. Si Bos hanya senyum-senyum bahagia. Bu Rina dan Kimin tertawa terbahak mentertawakan kondisi dan realita negara yang katanya sedang berkembang ini. Tawa mereka tak henti-hentinya meramaikan tiap sudut ruang direktur. Sore itu adalah sore penuh tawa, kegembiraan, dan sedikit kritik basa-basi yang kian basi.
Bagaimanapun keadaan negeri ini, bangsanya harus tetap mencintai. Bagaimanapun juga, negeri ini sudah mendidik bangsanya untuk memiliki kebudayaan, memiliki kelompok, memiliki tempat tinggal, dan tentunya memiliki bahasa. Pernahkah anda bayangkan, betapa beruntungnya anda menjadi orang yang mampu berbahasa Indonesia? Bayangkan betapa sialnya anda kalau saja anda tidak mahir berbahasa Indonesia, tentunya anda akan kesulitan untuk menikmati cerita Si Bos dan Kimin bukan?
Tak lama setelah terakhir kali Kimin melihat jam di tangan kirinya, Si Bos datang bersama Bu Rina, serta serombongan manusia-manusia dari divisi desain, marketing, dan lain-lain. Kumpulan manusia itu berjalan berbondong-bondong; dihiasi lembaran-lembaran yang dengan sengaja di pamerkan di depan muka Si Bos. Semuanya itu diiringi oleh ocehan Bu Rina yang terus menerus membacakan jadwal-jadwal Si Bos serta informasi-informasi penting yang harus disampaikan kepada Si Bos. Kimin hanya duduk di kursi khususnya, sambil bersiap menghadapi tugas paginya. Rombongan itu berjalan menuju ke ruangan direktur. Tepat di depan pintu ruang direktur, rombongan tersebut berhenti dari langkah-langkahnya; serta ocehannya. Semuanya membeku; kecuali Si Bos yang sudah siap melihat ke arah kiri sambil mengumbar senyum. Lalu saat-saat yang ditunggu Kimin datang, "Miiiiiiiin......!!" teriak Si Bos. Dengan semangat layaknya pahlawan pembela kebenaran, Kimin menjawabnya, "Ya Boooooos....?". Si Bos semakin lebar senyumnya. Lalu terdengarlah kata-kata dari Si Bos kepada Kimin, "Kopi Miiiiiiiiin......". Kimin melontarkan senyumnya sambil menjawab, "Siap Booooooooos.......". Dan berlalulah rombongan itu memasuki ruangan direktur, dan satu-persatu mulai keluar setelah mendapatkan tanggapan dari Si Bos. Di dalam pantry, Kimin memainkan jari-jarinya di atas cangkir aluminium. Memutarnya searah jarum jam, kadang berlawanan. Kimin sudah sangat terbiasa dengan tugas itu. Jelas saja terbiasa, karena setiap pagi Kimin melakukan tugas dan "password" yang sama; "password" yang vital; yang bisa saja membuat Kimin dikeluarkan dari perusahaan ini kalau-kalau Kimin salah mengucapkan walau satu kata.
"Tok..Tok..", "Permisi Boooos...." ucap Kimin. Tak lama sesudahnya Kimin masuk ke ruang direktur untuk menaruh secangkir kopi hangat yang baru saja ia bikin. Sesampainya di dalam, mata Kimin menerawang ke seluruh ruangan. Di temuinya hanya Bu Rina yang ada di dalam ruangan itu. "Si Bos kemana Bu?" tanya Kimin sembari meletakkan cangkir kopi di meja Si Bos. Bu Rina yang saat itu sedang memeriksa laporan keuangan jadi terbuyarkan konsentrasinya. Sambil terus menatap ke kertas-kertas yang dipegangnya, Bu Rina menjawab pertanyaan Kimin, "Ke WC bentar..", "Ooh.." jawab Kimin singkat. Tak lama Kimin bertanya lagi, "Ngapain Bu ke WC?". Bu Rina tetap tidak mengalihkan pandangannya dan menjawab, "Tau deh.. Pipis kali..", "Ow.." jawab Kimin. Kemudian Kimin mengambil serbet yang ada di pundaknya dan mulai mengelap coffee table, "Si Bos udah baca koran ini Bu?". Bu Rina tetap saja tidak teralihkan perhatiannya dan menjawab Kimin sambil lalu, "Belom.", "Ooh.. Oke.. Saya nunggu Si Bos deh.". Lantas Kimin duduk di sofa dekat coffee table. Sambil menunggu kedatangan Si Bos ke ruangan itu, Kimin mencoba untuk mengisi waktu kosongnya dengan berbincang dengan Bu Rina, "Si Bos ke WC belah mana Bu?" tanyanya. "Tau.. Yang deket sini kali." jawab Bu Rina. Lalu Kimin bertanya lagi, "Si Bos nggak sekalian buang air besar Bu?". Akhirnya Bu Rina melepaskan pandangannya dari kertas yang dipegangnya. Dipandangnya Kimin dengan mata kesal, "Nggak tau Miiiiin.... Min, ayo main tebak-tebakan!". Kimin antusias sekali menanggapai ajakan Bu Rina, "Boleh!" katanya semangat. "Oke.. Aku mulai duluan ya." kata Bu Rina, "Makhluk apa yang udah pernah diciptain Tuhan buat ngegangguin orang yang lagi serius meriksa laporan keuangan?" tanya Bu Rina. Kimin kecewa dengan pertanyaan itu, "Itu kan tebak-tebakan kemaren, kemarennya lagi, kemarennya lagi ama kemaren yang dulu Bu.. Pasti jawabannya Kimin kan?!". Bu Rina semakin kesal menghadapi OB Super Istimewa ini. "Oke.. Kalo gitu kita gak jadi maen tebak-tebakan. Kita maen tantangan aja. Mau?" tantang Bu Rina kepada Kimin. Dengan muka penuh semangat, Kimin menjawab, "Wah! Boleh boleh..!! Saya mulai duluan ya Bu?". Bu Rina cepat menggagalkan usaha Kimin, "Eit.. Nggak bisa.. Perempuan duluan. Ladies first. Oke?". Kimin hanya mengiyakan dengan kecewa. "Oke. Tantangan buat kamu adalah, coba untuk diam seribu bahasa hingga Si Bos datang. Kalo lolos, kamu boleh kasih saya tantangan. Oke?" tantang Bu Rina kepada Kimin. Karena tak mau dilecehkan, Kimin menerima tantangan itu, "Oke! Siapa takut..". Kemudian Bu Rina mulai menghitung mundur, "Tiga.. Dua.. Satu, mulai!". Dan benar saja, Kimin diam seribu bahasa, Bu Rina berhasil membuat Kimin bungkam, dan konsentrasi Bu Rina pulih kembali. Tak lama setelahnya, pintu ruang direktur dibuka. Muncul seorang pemuda dengan sepatu kulit berwarna hitam, celana bahan warna hitam, kemeja hitam bergaris abu-abu gelap, serta dasi hitam yang dilengkapi penjepit dasi bernuansa chrome. Tangannya sedang memegang sapu tangan dan terlihat sedikit percikan air di lengannya. Sambil berjalan pasti menuju ke meja, ia berseru, "Eh ada Kimiiiiiiin..... Kopi gue mana?". Kimin membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, "Udah lulus Buuuuu.....!" lalu Kimin melanjutkan, "Tuh udah di meja Bos.". Si Bos menjawab, "Mantab!". Kimin melontarkan pandangannya kepada Bu Rina dan bertanya, "Nah.. Udah Bu.. Sekarang giliran saya kasih tantangan ke Bu Rina oke? Tantangannya adal...". "Stop Min!" sambar Bu Rina memotong ucapan Kimin, "Kalo jam kerja ya kerja. Jangan main-main. Oke?". Kimin masih menahan kalimat tantangan itu di mulutnya. Pelan-pelan ia telan kembali kalimat itu, dan kesal kepada Bu Rina karena merasa dirinya dicurangi, "Bu Rina curang.. Ntar cantiknya ilang...", "Biarin. Wek!" jawab Bu Rina sambil menjulurkan lidahnya kepada Kimin. Kimin juga menjulurkan lidahnya kepada Bu Rina, "Wek!". Melihat kelakuan kedua orang di hadapannya, Si Bos menanggapi "Min..". Kimin langsung menjawab, "Ya Bos?", "Wek!" jawab Si Bos sambil menjulurkan lidahnya ke Kimin. Belum sempat Kimin membalas, Si Bos sudah berpaling ke Bu Rina, "Hmmm... Rina?", Bu Rina menanggapinya, "Ya Bos?". Si Bos memandangi wajah Bu Rina dan, "Wek!". Seketika Bu Rina membalas, "Wek!". Lalu mereka bertiga tersenyum terhadap dirinya sendiri. Si Bos bertanya-tanya dalam hati, "Di kantor lagi musin kontes melet kali ya?".
Setelah selesai membaca koran pagi, Kimin mulai membuka pembicaraan dengan Si Bos, "Bos.. Saya ada kabar gembira Bos.". Lalu Si Bos menanggapi, "Kabar gembira apaan? Warteg depan bikin menu baru?". Kimin menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bukan Boooos... Kalo itu mah bukan urusan saya.", "Trus apaan?" tanya Si Bos kepada Kimin. Lalu Kimin menjelaskan, "Sekarang katanya mau di bikin WC umum di kampung saya Bos. Kan kampung saya kecil, nggak semua rumah punya kamar mandi. Nah pemerintah mau bikin kamar mandi umum.". Si Bos menanggapi, "Wah.. Bagus donk. Bisa cuci motor gratis.". Kimin langsung menjawab, "Ah kok malah cuci motor. Yang penting tuh bisa mandi Bos.. Bukannya cuci motor!". Si Bos hanya terkekeh mendengar tanggapan Kimin. Lalu mengingat kejadian adu melet tadi pagi, Si Bos bertanya kepada Kimin, "Eh Min, tadi emang ada apaan sih kok melet-meletan ama Bu Rina?". Lalu Kimin menjelaskan dengan muka agak kesal, "Itu tuuuuh.. Bu Rina tuuuuh... Tadinya kan Bu Rina mau ngajakin tebak-tebakan, nah saya semangat.. Eeh.. Malah saya diboongin ama Bu Rina.". Si Bos malah menyalahkan Kimin, "Lagian elu mau aja diboongin.". Belum sempat Kimin menanggapi, Si Bos sudah melanjutkan, "Eh Min, mainan tebak-tebakan yuk!". Dengan muka yang tetap kesal, Kimin menjawab, "Ogah ah! Ntar gantian Si Bos yang boongin saya!". Si Bos langsung membela dirinya, "Yeee... Enggak. Gue orangnya baek, nggak kayak Bu Rina." lalu Si Bos mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sambil berkata, "Sueeeer... Gue mah orang baek Miiiin....". Masih tidak percaya akan hal itu, Kimin memastikan, "Beneran ya?". Si Bos menganggukkan kepalanya. Melihat Si Bos berkata jujur, Kimin mengiyakan, "Yaudah.. Apa tebakannya Bos?" tanya Kimin kepada Si Bos. Si Bos langsung tersenyum bahagia sambil melontarkan tebakan kepada Kimin, "Niiiih.... Apa, yang kalo masuk gak bayar, tapi keluarnya bayar Min?". Kimin langsung menjentikkan jarinya sambil berkata, "Ah itu mah keciiiiiil..... WC umum Bos! Kalo orang masuk kan gak bayar, tapi kalo keluar baru ditarik duit. Ya kan?". Si Bos membenarkan, "Hehe.. Tau aja lo..". Kimin bangga akan dirinya yang bisa mengungguli Bosnya. Kemudian Si Bos melontarkan kesempatan berikutnya kepada Kimin, "Sekarang giliran lo Min..". Sebelum melayangkan tebakannya, terlebih dahulu Kimin bertanya, "Tapi kenapa kamar mandi umum itu bayar ya Bos? Kenapa gak gratis aja gitu. Kan katanya di mana-mana banyak tulisan 'dilarang kencing di sini'. Tapi kalo orang mau kencing, malah dibebani suruh bayar.". Mouse komputer terus bergerak kesana kemari mengikuti kehendak tangan Si Bos, "Ya namanya juga fasilitas umum Min. Kalo nggak bayar ya kasian yang kasih fasilitas kan. Biaya perawatannya dari mana, biaya aernya, biaya ini, itu..". Kimin bertanya lagi, "Kalo gitu, kenapa itu nggak dibikin jadi fasilitas negara aja Bos? Biar negara aja yang tanggung duitnya..". Si Bos dengan sabar menjelaskan, "Ya mau fasilitas negara juga kita tetep kudu bayar Min.". Kimin bertanya heran, "Loh? Kok gitu?". Si Bos melanjutkan, "Ya iya lah.. Bus, angkot, metromini kan juga punya negara. Tapi kalo kita mau pake fasilitasnya ya kudu bayar. Telepon juga milik negara. Tapi kalo kita mau telepon juga kudu bayar. Ya kan?". Belum puas dengan jawaban itu, Kimin bertanya lagi, "Kalo Kartu Keluarga Bos, kenapa gratis?". Si Bos nyengir sambil menjawab, "Yang gratis itu kan KK yang buatnya di tempat orang bener. Kalo orangnya nggak bener ya bayar Min. Mahal lagi.. Lagian kita tu kalo disuruh bayar-bayar gitu jangan kesel Min.. Harusnya malah bangga." lanjutnya sambil menyeruput lagi kopinya. Kimin tidak menghiraukan karyawan yang lalu-lalang; silih berganti masuk keluar ruangan direktur. Kimin tetap berusaha menjawab rasa penasarannya, "Kok malah bangga? Disuruh bayar kok bangga..!". Si Bos bercakap-cakap sebentar dengan karyawan yang baru saja menyodorkan laporan produksi hari kemarin. Selesainya itu, Si Bos menjawab Kimin, "Bangga doooonk.... Kalo kita nggak bayar, siapa lagi yang mau ngegaji mereka-mereka itu? Duit pajak kan buat bayarin petugas pajak. Otomatis kita yang ngasih gaji ke mereka kan? Ya kan?". Kimin manggut-manggut seperti mainan Scooby-Doo yang biasa ditempel di dashboard mobil-mobil. "Yaudah kalo gitu, gantian saya yang nanyain Si Bos." kata Kimin semangat. "Sooook atuuuh (Silakaaaaan.red)" jawab Si Bos. Kimin berharap pertanyaan ini adalah pertanyaan luar biasa, "Nah sekarang apa yang kalo masuk bayar, keluarnya gak bayar Bos?". Sekarang giliran Si Bos yang menjentikkan jari, "Keciiiiiil..... Banyak kalo itu mah! Nonton bioskop, nonton sirkus, ke Dufan, masuk PRJ. Banyak Miiin...". Kimin kecewa karena Si Bos dengan mudah menjawab tebakannya, "Ah Si Bos pinter sih.. Kalo ditanya jadi bisa jawab. Gak seru ah..!!". Si Bos tertawa bahagia. Namun kini giliran Bu Rina yang ingin menguji kecerdasan Si Bos, "Saya ikutan Bos! Saya ada tebakan nih!" katanya bersemangat. "Boleeeeh....." jawab Si Bos menanggapi Bu Rina. Lalu Bu Rina meletakkan ponselnya di meja; di dekat Si Bos, "Apa yang masuknya bayar, keluarnya bayar? Hihi.. Pasti pada nggak bisa jawab deh.". Si Bos tersenyum sambil berkata, "Bukannya mau sombong nih Rin, tapi saya mau kasih kesempatan dulu ke Kimin. Kali-kali aja dia bisa jawab. Gimana Min, bisa gak lu?!". Bu Rina mengalihkan pandangannya kepada Kimin dengan muka penuh harap. Pandangan Kimin mulai menerawang ke langit-langit, tanda ia sedang berpikir. Setelah sekian lama, akhirnya Bu Rina bertanya lagi, "Gimana Min, tau nggak?". Kimin menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian Bu Rina ganti bertanya kepada Si Bos, "Si Bos juga nggak tau kaaaaan? Hihi..". Dengan muka sombong, Si Bos menjawab, "Itu gampaaaaang....". Bu Rina mengujinya dengan bertanya, "Coba apa jawabannya?". "Ke Dufan naek mobil sendiri. Betul kan?" jawab Si Bos pasti. Bu Rina bertepuk tangan, "Horeee... Bener. Hihi..". Kimin bertanya kembali, "Loh? Kok bisa? Ke Dufan kan udah jawaban yang tadi?!". Bu Rina menjelaskan, "Ini beda Miiin... Ini kan naek mobil pribadi. Jadi masuk bayar tiket Dufan, keluar bayar parkir deh." jawabnya sambil tersenyum. Kimin mengiyakan. Kemudian Kimin menimpali, "Giliran saya!". Bu Rina dan Si Bos menjawab serentak, "Boleeeeeh.....!". Sambil membetulkan posisi duduknya, Kimin bertanya, "Apa yang masuk nggak bayar, keluar juga nggak bayar?! Hayo siapa bisa! Haha!". Belum sempat Si Bos menjawab, seorang karyawan masuk ke ruangan direktur sambil berkata, "Pak, meetingnya hampir dimulai. Silakan Pak..". Si Bos segera menjawab, "Oke. Makasih ya.". Lalu orang itu meninggalkan pintu, diiringi oleh Bu Rina yang bersiap membawa berkas-berkas penting untuk dibahas di meja rapat. Saat Si Bos membuka pintu ruangan direktur, Kimin menarik lengan baju Si Bos, "Ntar dulu dong Bos! Kan belum dijawab..". Si Bos menjawab dengan cepat, "Mau ke pantry kek, mau ke parkiran di bawah kek, mau ke ruangan gue kek, mau kemana aja di kantor ini juga masuk ama keluarnya kaga bayar Min!". Lalu Si Bos berlalu diikuti Bu Rina di belakangnya. Di dalam ruangan itu Kimin bengong sendirian. Kimin meratapi nasib yang tidak berhasil mengungguli permainan tebak-tebakan bersama Si Bis dan Bu Rina.
Saat langit putih berubah keemasan, dan Kimin masih setia menunggu kedatangan Si Bos dan Bu Rina di ruangan direktur; satu-persatu karyawan sudah bersiap untuk pulang. Beberapa diantaranya sedang membersihkan meja kerjanya dari serakan kertas-kertas. Beberapa yang lain sedang mematikan komputer, dan beberapa OB sudah mulai membersihkan lantai dan jendela. Kantor ini selalu dibersihkan dua kali dalam sehari, yaitu sesaat sebelum para karyawan datang, dan sesaat sebelum karyawan pulang. Kadang kala jika musim hujan, para OB harus setia berkawan dengan lap pel untuk selalu menghapus jejak kaki bercampur air dan lumpur di pintu masuk. Jika musim kemarau tiba, para OB setia berkeliling kantor untuk menyapu tiap petak lantai di lobby karena debu berterbangan memasuki ruangan itu. Di halaman depan kantor ini sudah tertanam pohon-pohon tinggi karena Si Bos sangat menyukai pemandangan yang hijau asri. Selain itu, pohon-pohon tinggi dapat menghalau angin yang kencang. Kadang kala Si Bos menyempatkan diri untuk melihat-lihat halaman depan kantor ini. Walau hanya sekedar berkeliling di halaman kantor, namun hal itu sudah membuat hatinya lebih tenang. Maklum, tinggal di apartment harus siap untuk menerima konsekuensinya, yaitu tidak memiliki taman pribadi. Lain soal jika hidup di lantai paling atas.
Serbuk kopi bercampur gula dan krimer telah tertuang kembali ke dalam cangkir aluminium. Lalu disusul oleh percikan air hangat mengoyakkan serbuk-serbuk itu. Sebuah sendok kecil ikut menyelam ke dalamnya, dan membuat tarian bersama air hangat dan serbuk. Kemudian semuanya itu bercampur dan membuahkan warna kecoklatan yang indah. Dengan menuang air dingin untuk menghangatkannya, maka selesailah sudah racikan kopi hebat itu. Segera seorang OB Istimewa menaruh cangkir itu di atas nampan, dan mengantarkannya ke ruangan Si Bos. Setelah berucap permisi, Kimin masuk dengan sopan, dan meletakkannya di atas meja kerja Si Bos. "Tengkyu Min.." kata Si Bos kepada Kimin. Bu Rina sudah dalam posisi santai di sofa, sambil kembali membaca proposal yang baru diterimanya dari meeting tadi siang. "Srupuuuuuth...!!!" suara itu terdengar begitu saja, "Aaaaaah.... Manteb bneeeeerrr...". Kimin menghampiri coffee table, dan segera meraih koran sore. Namun belum lama Kimin membaca, koran itu sudah kembali diletakkan di coffee table. Si Bos bertanya, "Kenapa lu? Kok tumben kaga dibaca ampe kelar? Biasanya lu semangat baca koran dah?". Kimin menjawab dengan malas-malasan, "Ah.. Apaan.. Dari kemaren-kemaren koran kok isinya cuman pornografi, anak ilang, orang bunuh diri, ama berantem gara-gara kalah tarohan bola. Beritanya jadi gitu-gitu doang. Gak seru!". Mendengar hal itu Bu Rina tersenyum kecil. Tidak bisa disangkal, memang akhir-akhir ini berita yang menonjol hanya itu-itu saja. Seolah-olah masyarakat lebih peduli pada aksi porno daripada pertandingan sepak bola dunia. Lain halnya dengan pemerintah, mereka lebih fokus kepada hal-hal baru, dan melalaikan hal-hal penting yang sudah lama berlalu. Kisah tragis lumpur di daerah timur juga belum ada titik terang. Sekolah gratis dan problematika UN juga tak kunjung surut. Namun pemerintah memang lebih suka untuk meluruskan hal-hal baru, daripada hal-hal lama. Dengan demikian, orang-orang yang "nakal" akan berpikiran untuk membuat sebuah masalah besar, lalu memperpanjang proses hukumnya. Sehingga pemerintah akan segera lupa akan hal itu. Sebuah celah yang menarik bagi para "orang nakal". Untuk sekedar menghibur Kimin agar melupakan kejenuhannya akan surat kabar akhir-akhir ini, Si Bos menghiburnya dengan melanjutkan sesi tebak-tebakan yang sempat tertunda tadi siang, "Gimana kalo kita tebak-tebakan aja lagi? Hehe..". Bu Rina langsung menanggapinya dengan semangat. Begitu juga Kimin, ia langsung membenarkan posisi duduknya agar terlihat lebih serius, "Siaaaaap.... Siapa yang mau ngasih tebakan nih? Saya nggak punya tebakan lagi euy! Bu Rina mungkin?". Bu Rina langsung menanggapi, "Ah kamu sih ada atau nggak ada tebakan juga nggak ngaruh. Tebakan kamu kurang bermutu sih Min.". Si Bos langsung tertawa kencang mendengar hal itu terlontar dari mulut Bu Rina. Namun dengan segera Bu Rina menepuk-nepuk pundak Kimin, pertanda bahwa kata-katanya hanyalah untuk menggoda Kimin, "Nggak Miiiin.. Becanda.. Hihihi.. Saya nggak ada tebakan nih. Si Bos aja deh!". Si Bos masih terkekeh mendengar ejekan Bu Rina kepada Kimin, "Hehe.. Bu Rina jahat. Hehehe.. Yaudah, gue aja yang kasih tebakan. Ehm!". Kemudian Si Bos menaruh tangannya pada meja. Sambil menyondongkan badannya ke depan; ke arah Kimin dan Bu Rina, Si Bos memulai tebakannya, "Nah tadi kan udah ketebak apa yang masuk bayar, keluar gak bayar. Trus masuk gak bayar tapi keluar bayar juga udah.. Masuk bayar keluar bayar juga udah. Trus terakhir kan yang masuk gak bayar, keluar juga gak bayar juga udah. Nah sekarang tebakannya gini.. Apa yang masuk bayar, di dalem dibayar, keluarnya bayar, ama dibayar. Apa ayoooo....". Bu Rina langsung berpikir. Otaknya benar-benar bekerja. Lain halnya dengan Kimin, dia malah bertanya sekali lagi karena belum mengerti benar pertanyaanya, "Gimana Bos? Ulangin ulangin..". Si Bos mengulang lagi pertanyaannya, "Apa yang kalo masuk bayar, di dalem dibayar, pas keluar bayar ama dibayar. Apa?". Kemudian ruangan itu menjadi sepi dan hanya dihiasi oleh senyum dari Si Bos. Bu Rina sudah terdiam, jarinya diletakkan di bibirnya, dan matanya melihat jauh ke lantai. Otaknya berpikir akan jawaban teraneh apa yang akan dilontarkan Si Bos. Sedangkan Kimin duduk bersandar. Tangannya dilipat di depan dada, dan matanya menerawang jauh melihat ke langit-langit. Mulutnya komat-kamit untuk mengucapkan beberapa kemungkinan jawaban. Kesunyian itu menyelimuti ruangan cukup lama. Tiba-tiba suara Si Bos memecah kesunyian itu, "Nyerah?". Bu Rina mengangguk pelan dan mengakhiri pikirannya. Kimin juga menganggukkan kepalanya karena menyadari kepintarannya tidak mencapai ke tahap itu, "Apaan Bos jawabannya?" tanya Kimin penasaran. Si Bos menjawab, "DPR.". Bu Rina langsung menyipitkan matanya, "DPR?" tanyanya. Si Bos hanya menjawab sambi tersenyum, "Iya.". Lalu Kimin melanjutkan pertanyaan Bu Rina, "Kok bisa DPR Bos?". Kemudian Si Bos bengkit dari tempat ia duduk, dan mengambil posisi duduk di dekat Kimin, "Geser Min..". Kimin berpindah posisi duduknya mendekati Bu Rina, dan memberikan ruang duduk kepada Si Bos. Pelan-pelan Si Bos menjelaskan, "Ehm! Gini.. Kenapa DPR? Coba liat orang kalo mau jadi anggota DPR kan kudu bayar.". Kimin bertanya, "Bayar apaan Bos?". Si Bos menjawab, "Dana promosi pemilu? Dana hiburan buat petinggi fraksi? Dana sogokan buat rakyat? Belum lagi kalo mau beli kertas suara palsu..". Kimin mengangguk lalu bertanya, "Trus, kalo di dalem kok di bayar?". Si Bos menjawab lagi, "Kan kalo jadi anggota DPR digaji Min.. Jadi mereka dibayar.. Diigaji.. Belom lagi amplop-amplop. Kan dibayar juga tuh namanya.". Kimin mulai tersenyum gembira. Bu Rina menimpali dengan pertanyaan, "Trus? Kalo keluar kok bayar ama dibayar Bos?". Si Bos tersenyum lebar dan menjawab, "Kalo sampe dikeluarin, kan harus bayar pengacara..". "Hahahahahahahaha....." Bu Rina dan Kimin tertawa sekencang-kencangnya. Si Bos melanjutkan lagi, "Belom lagi bayar hakimnya. Ya lumayan laaaaah... Buat uang senang-senang si hakim biar terdakwa gak berat beban hukumannya.". Semakin keras lagi tawa Bu Rina dan Kimin. Mereka senang sekali jika mendengar Si Bos sedang membicarakan hal-hal macam ini. Sepuasnya tertawa, Bu Rina bertanya lagi, "Tadi kan bilangnya kalo keluar bayar ama dibayar kan Bos? Nah kalo bayar kan bayar pengacara, hakim, ama saksi palsu tuh. Hehe.. Kalo dibayar, gimana penjelasannya tuh Bos?". Si Bos memulainya, "Oo.. Kalo itu gini nih..". Bu Rina dan Kimin langsung memasang tampang serius. Si Bos menjawab, "Kan dibayar ama temen-temennya yang lain Riiiiin....". Kimin bingung, "Di bayar temen-temennya Bos?? Maksudnya??". Si Bos menjawabnya, "Sini sini..!!". Kemudian Bu Rina dan Kimin mendekatkan telinganya ke Si Bos. Dengan berbisik, Si Bos menjelaskan, "Kan dibayar ama temen-temennya buat uang tutup mulut. Biar yang lain gak ikut-ikutan ketangkep.". Bisikan itu membuka tawa Bu Rina dan Kimin. Tawa mereka lepas selepas-lepasnya. Si Bos hanya senyum-senyum bahagia. Bu Rina dan Kimin tertawa terbahak mentertawakan kondisi dan realita negara yang katanya sedang berkembang ini. Tawa mereka tak henti-hentinya meramaikan tiap sudut ruang direktur. Sore itu adalah sore penuh tawa, kegembiraan, dan sedikit kritik basa-basi yang kian basi.
Bagaimanapun keadaan negeri ini, bangsanya harus tetap mencintai. Bagaimanapun juga, negeri ini sudah mendidik bangsanya untuk memiliki kebudayaan, memiliki kelompok, memiliki tempat tinggal, dan tentunya memiliki bahasa. Pernahkah anda bayangkan, betapa beruntungnya anda menjadi orang yang mampu berbahasa Indonesia? Bayangkan betapa sialnya anda kalau saja anda tidak mahir berbahasa Indonesia, tentunya anda akan kesulitan untuk menikmati cerita Si Bos dan Kimin bukan?

0 comments:
Post a Comment