Saturday, June 5, 2010

Koruptor Aseli

Kimin bukanlah seorang OB biasa. Kimin adalah seorang OB Istimewa. Kenapa disebut sebagai OB Istimewa? Karena kedudukannya di kantor adalah 1 level di bawah owner dan main director yaitu Si Bos. Kedudukan Kimin dan Bu Rina adalah setara. Dengan kata lain, para karyawan dan staf selain Bu Rina, adalah bawahan Kimin sepenuhnya. Namun Kimin tidak pernah sombong akan kedudukannya itu. Kimin tetap merasa dan menempatkan dirinya sebagai OB pada umumnya. Tapi tetap bagaimanapun juga, belum pernah ada satu karyawanpun yang berani untuk memerintah Kimin. Hak istimewa itu hanya dimiliki oleh Si Bos dan Bu Rina. Oleh sebab itu, Kimin juga belum pernah merasakan melayani karyawan selain Si Bos dan Bu Rina.

Kimin dan Bu Rina mempunyai hak khusus untuk menempati ruangan direktur atau ruangan Si Bos sebagai bilik kerjanya. Jadi jika Kimin sedang tidak sibuk, Kimin akan mudah ditemukan di ruangan Si Bos sedang duduk di atas sofa, sambil memegang koran atau hanya melongo melihat Si Bos dan Bu Rina. Akhir-akhir ini Kimin memiliki hobi baru yaitu membaca koran. Di rumah, Kimin tidak berlangganan koran. Tetapi koran pagi dan sore sangat mudah ditemui di ruangan Si Bos. Setelah Si Bos membaca, koran langsung diletakkan di coffee table. Namun koran tidak akan bertahan lama berada di atas meja, karena Kimin sudah siap menyambar koran itu untuk segera dibacanya habis. Beberapa hari yang lalu, Kimin menemukan hal yang menarik di koran pagi. Mukanya sangat serius sekali membaca tulisan-tulisan kecil itu. Setelah membaca beberapa kalimat, Kimin melemparkan sebuah pertanyaan kepada Si Bos, "Bos.. Udah tau berita terbaru tentang Budi belum?". Bu Rina ikut memperhatikan pertanyaan Kimin. Maklum, Bu Rina jarang membaca koran. Bu Rina lebih suka untuk mengikuti berita lewat situs-situs internet melalui ponselnya. Sambil tanpa meninggalkan kesibukannya, Si Bos balik bertanya Kimin, "O.. Budi Duaji itu? Kenapa emang Min?". Sambil memandang kembali koran yang ada di hadapannya, Kimin menjawab, "Nih Bos. Katanya tuh orang itu masih diperiksa, terkait dana pilkada yang miliaran itu Bos. Diduga Budi yang gelapin dana itu Bos.". Mendengar berita itu, Bu Rina hanya manggut-manggut mendengarkan. Si Bos tetap meletakkan pandangannya pada layar monitor dan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Namun sesaat kemudian Si Bos menjawab, "Kuno Min.. Kurang update tuh koran.". Bu Rina menghentikan pekerjaannya sejenak lalu memandang ke arah Si Bos sambil melontarkan pandangan bingung. Kimin juga meletakkan koran yang dipegangnya, lalu memandang Si Bos sambil bertanya, "Ada berita yang lebih baru emangnya Bos?". Si Bos tetap memandangi layar monitor sambil menggerak-gerakkan tangannya yang terletak di mouse komputer, "Niiih... Ada yang lebih update nih di interneeeet.....". Kimin beranjak dari tempat ia duduk dan menghampiri Si Bos dengan penasaran. Bu Rina juga melongokkan kepalanya ke arah monitor Si Bos, untuk ikut membaca berita yang katanya adalah yang paling update itu. Setelah Kimin berada di dekat meja, Si Bos menunjuk kursi yang ada di hadapan Kimin, "Duduk situ Min. Gue bacain deh.". Bu Rina yang sudah melihat layar monitor berukuran 24" itu langsung heran dan bertanya dalam hati, "Katanya berita di internet. Kok yang dibuka gambar tapir sih?". Belum sempat pertanyaan itu terjawab, Bu Rina sudah mendengar Si Bos memulai pembicaraannya, "Nih dengerin nih Min. Di situs ini tertulis gini nih.. 'Budi Duaji menyesalkan perbuatan oknum-oknum yang membuat namanya menjadi tercemar. Oleh sebab itu, Budi Duaji akan segera meluncurkan nama baru dengan maksud agar dapat menghapuskan namanya yang sudah terlanjur tercemar. Nama baru yang akan segera diluncurkan oleh Budi Duaji adalah Budi Triji. Predikat Duaji (2G) akan segera diganti dengan Triji (3G). Nama baru tersebut diharapkan dapat berlaku sebagai penyempurnaan dari nama sebelumnya. Dengan mengusung nama yang berteknologi
generasi ke-tiga, nama Triji diharapkan dapat membantu masyarakat untuk membuktikan bahwa Budi Triji bukanlah sebuah nama sembarangan. Fitur-fitur yang diusung oleh nama Triji adalah kecepatan komunikasi via internet,face to face maupun telepon umum. Selain itu interfacenya juga digarap serius oleh beberapa desainer ternama, sehingga penyidik dapat nyaman untuk memperoleh data yang valid. Penyimpanan data juga disokong oleh memori yang cukup besar yaitu brankas ukuran 5x10meter sebagai penyimpan data internal, dan flashdisk ukuran 8Gb untuk penyimpan data eksternal dan portable.' Tuuuuh.... Lebih update daripada koran kan Min?". Kimin hanya ketawa-ketiwi sambil bertanya, "Hehe.. Yang saya maksud tuh orang Boooos... Yang ada hubungan ama dana Pilkada itu, bukannya henpon yang dikawinin ama blender. Ah Si Bos maaaah..".

Segitu cepat waktu terus berlalu, dan jarum jam berlari melawan arah datangnya matahari. Jarum pendek sudah mendekati angka empat, dan jarum panjang perlahan mencampakkan angka sembilan. Di dalam sebuah ruangan direktur, tiga orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing; Bu Rina sedang sibuk dengan BB dan jadwal-jadwal Si Bos, Kimin sedang menikmati koran sore yang baru saja datang, dan Si Bos sedang berangan-angan untuk membangun sebuah planet baru yang penuh kedamaian. Di tengah impiannya, Si Bos berpikir untuk memenuhi planet itu dengan coffee machine super canggih agar semua rakyatnya tidak kesulitan untuk menikmati kopi dari berbagai macam negara. Namun tiba-tiba saja Si Bos membuyarkan impiannya, dan kembali teringat bahwa sore itu dia belum melaksanakan ritual "ngopi sore"nya. "Miiiiiin....!!!" katanya kepada OB Istimewa yang sedang asik dengan koran sorenya. Dengan membiarkan koran itu tetap terbuka di atas sofa, Kimin memutar badannya ke arah Si Bos, "Ya Bos?" tanyanya sambil terus bersila di atas karpet. Badan tuanya itu melintir untuk menengok ke arah Si Bos. Lalu Si Bos menjawab, "Kopi Miiiiiin.....". Tiba-tiba saja Kimin berdiri tegak, tangannya diletakkan di samping pahanya, dan tangan yang satu lagi terbuka di atas pelipisnya, "Siap Bos!" jawab Kimin sambil hormat. Lalu Kimin bergegas meninggalkan ruangan Si Bos dan menuju pantry untuk membuat secangkir kopi hangat untuk Si Bos. "Apaaaa itu maksudnya.. Dasar.." gumam Si Bos melihat tingkah Kimin barusan. Bu Rina ikut tersenyum mendengar gumaman Si Bos. Sementara menunggu kopi datang, Si Bos bertanya kepada Bu Rina, "Rin..", "Iya?" jawab Bu Rina. Wajah Si Bos berubah menjadi bingung, "Kimin tuh waras gak ya?". Bu Rina tertawa kecil, "Hihihi.. Kok Si Bos nanya gitu sih?". Si Bos menjawab, "Nah liat aja tuh.. Udah tau Bosnya nggak waras, mau-maunya aja dia kerja ama saya. Iya nggak?". "Hahahahahahaha.... Ah Si Bos. Hahaha.." tawa Bu Rina lepas begitu saja. Tubuhnya terguncang di atas sofa. Melihat tawa itu, Si Bos
tersenyum dan bertanya lagi, "Loh.. Betul kan? Hehe..". Sambil terus tertawa, Bu Rina menjawab, "Hahahaha... Iya bener. Hahahaha..". Tapi tawa Bu Rina itu tak bertahan lama. Bu Rina segera diam dan bercermin kepada dirinya sendiri, "Kerja ikut orang gila? Gue juga kerja ikut Si Bos kan? Aduh.. Stupid..".

Terdengar suara derap-derap kaki mulai pergi menjauhi kantor; dan ketukan pintu di ruangan direktur terdengar kembali, "Tok.. Tok..". Tak lama setelah ucapan permisi, seorang berseragam OB masuk dengan nampan dan secangkir kopi. "Silakan Bos.." ucapnya. Menanggapi hal itu, Si Bos berterima kasih. Tak lama, Bu Rina berdiri dari tempat ia duduk. Dengan tas kerja di tangannya, Bu Rina menghampiri Si Bos dan berkata, "Saya duluan ya Bos?". Si Bos hanya mengangkat kedua alisnya karena cangkir kopi masih menempel pada mulutnya. "Permisi Bos, Min..", Bu Rina berpamitan sambil berlalu meninggalkan ruangan Si Bos. Sedangkan Kimin membalas Bu Rina dengan senyuman, lalu kembali ke
koran sorenya. Si Bos asyik dengan laporan kerja yang memberlihatkan grafik yang indah dilihat karena menuju ke kanan atas. Sambil senyum-senyum menikmati laporan naiknya produksi dan profit bulan ini, Si Bos menyempatkan untuk berbincang dengan Kimin, "Gimana Min, ada berita baru apa lagi sore ini?". Kimin membenarkan posisinya; kali ini ia
tidak duduk di lantai. Posisi duduknya sudah berada di atas sofa,dan koran diletakkan di atas coffee table, "Sebutan untuk perempuan yang sudah tua. Lima kotak, huruf paling depan N, huruf ketiga N. Apaan Bos?", "Yah elu.. Ditanya berita malah TTS.." jawab Si Bos kecewa. Dengan tampang masih ngotot, Kimin menjelaskan, "Ini dulu Booos..! Seru nih! Apaan Bos jawabannya?". Si Bos menjawab singkat, "Eek!". Kimin terperanjat bingung, "Loh kok eek sih Bos? Ini sebutan perempuan loh, bukan ampas manusia.". Si Bos meletakkan kertas laporan yang sudah selesai dibacanya itu. Sambil menghela nafas, Si Bos menjelaskan kepada Kimin, "Ah elu.. Dibilangin gak percaya. Kan tadi lu bilang udah ada huruf N di kotak pertama ama kotak ketiga. Nah sekarang coba deh lu isi tuh 'eek' di kotak yang kosong.". Kimin melongo memperhatikan penjelasan Si Bos, lalu bergegas menuruti perintahnya. Diarahkannya ballpoint di tangan kanannya kepada kotak kedua, keempat dan kelima; ditulisnya di situ E, E, dan K. Lalu wajahnya tersenyum lebar dan memandangi Si Bos, "O iya ya.. Jadi NENEK ya Bos? Hehe.. Si Bos pinter ya? Hehe..". Si Bos langsung menunjukkan muka sombongnya, "Loh iya donk..!! Gini-gini gue pernah juara cerdas cermat pas masih kecil..!!". "Wah..?Beneran Bos?!" muka Kimin semakin bertambah kagum. Si Bos berkata lagi, "Iya donk. Gueeee....". Untuk menjawab rasa penasarannya, Kimin bertanya, "Waktu SD Bos?", Si Bos menjawab singkat, "Yo'i.". Kimin bertanya lagi, "Nasional Bos?!" kali ini nadanya lebih tinggi dari pertanyaan sebelumnya. Namun Si Bos menyalahkan ucapan Kimin, "Ya nggak laaaah... Lomba cerdas cermat se-RT. Pas itu lagi tujubelasan di deket rumah. Trus ada lomba cerdas cermat buat anak-anak kecil. Gue ikutan aja buat meriahin acara. Eeeh.. Pas hari H malah pada gak hadir anak-anak kecilnya soalnya pada di suruh dateng ke sekolaan masing-masing buat upacara. Trus ya udah.. Pesertanya satu doank deh, gue.". Setelah mendengar ucapan Si Bos, Kimin langsung merasa bahwa senyumnya berubah menjadi kecut. Ia menutup senyumnya, dan kembali ke korannya tanpa menghiraukan Bosnya yang ngaku-ngaku juara cerdas cermat itu.

Sore ini dihiasi dengan obrolan hangat antara Si Bos dan Kimin. "Min, balsem masih?" tanya Si Bos memastikan. "Masih Bos. Mau di ambilin?" Kimin melipat koran sorenya. Si Bos menjawab singkat sambil mengendurkan ikatan dasinya, "Yo'i..". Lalu Kimin berlalu meninggalkan ruangan itu. Tak lama kemudian Kimin masuk dengan sebuah botol kecil di tangannya. Botol itu berwarna putih, dan tutupnya berwarna merah. Di temuinya Si Bos sudah tengkurap di karpet. Kemeja dan dasinya ditaruh begitu saja di sofa. Kimin langsung duduk di dekat Si Bos, sambil membuka wadah balsem itu. Si Bos memegang remote di tangan kanannya, dan tangan kirinya menopang dagunya. Setelah mengolesi punggung Si Bos, Kimin mulai memijat Si Bos dari bahu sampai pinggang. Televisi di ruangan itu bercerita tentang konflik-konflik di negara ini. Diselingi dengan beberapa iklan makanan ringan yang mencolok dan norak, "Ini iklan apaan sih?!" Si Bos menggumam. Kimin mengarahkan pandangannya pada televisi dan menanggapi gumaman Si Bos, "Iklan snack keju kan Bos?". Si Bos mengerenyitkan dahinya sambil bertanya, "Apa hubungannya snack keju ama pegulat buka-buka selangkangan??". "Huahahahahahahahahahahaha....!!!" Kimin tertawa keras sekali. Akhir-akhir ini iklan itu memang sedang hebat diperbincangkan para karyawan. Beberapa diantaranya berkomentar, "Kasian tuh.. Cantik-cantik kok nasibnya sial ya...". Beberapa yang lain berkomentar, "Pasti abis syuting diledekin ma temen-temennya tuh.". Yang paling unik adalah karyawan dari divisi desain yang terang-terangan berkomentar, "Kenapa harus nampilin beruang madu berseragam pegulat di iklan snack keju? Kan seharusnya tapir kan?". Tapi bagaimanapun juga komentar para karyawan, iklan itu tetap saja menjadi satu sajian menarik, dan produknya laris-manis bak kacang goreng. Lalu kembali pada berita siang, dan lagi-lagi berita tentang korupsi dan koruptor. Kimin geleng-geleng kepala mendengar berita-berita itu. Mengetahui Kimin berhenti memijat dan geleng-geleng menyaksikan berita sore, Si Bos bertanya, "Triping lu?". Kimin terperanjat, "Eh! Ah.. Nggak Bos. Itu tuh.. Tega-teganya duit rakyat ditilep gitu ya Bos?". Si Bos menaruh kembali kepalanya di pangkuan tangannya, "Yah.. Emang gitu lah kerjaan mereka. Dateng rapat, manggut-manggut, SMSan pas rapat, tidur pas rapat, maen perempuan, trus nrima amplop deh. Mnurut mereka itu halal loh Min..". Kimin hanya mendengarkan Si Bos sambil terus memijat punggung, lalu Kimin bertanya, "Kok bisa halal sih Bos? Udah jelas-jelas makan duit orang lain.". Diiringi aroma balsem yang segar, Si Bos menjelaskan, "Orang tuh nggak bisa disalahin kalo dia nggak pernah belajar mana bener, mana salah. Selama menurut dia itu baik, ya jadi benar. Kalo menurut dia nggak baik. Ya jadi salah. Gitu aja.. Gampang kan?". Kimin mencolek lagi balsem dari wadahnya. Sambil meratakan balsem di bahu Si Bos, Kimin bertanya heran, "Kok bisa gitu? Nggak ngerti Bos..". Si Bos kembali menjelaskan, "Gini nih.. Misalkan ada bocah kecil jalan ama emaknya. Trus emaknya beliin coklat buat si bocah itu. Nah pas bocah itu jalan, dia ngeliat ada anjing lagi kongkow di halaman depan rumah. Trus si bocah nyamperin tu anjing. Karena si bocah baek, dia ngasih sepotong coklat ke anjing itu. Nah si anjing demen banget dikasih coklat ama tu bocah. Dimakan deh tu coklat. Menurut lu, bocah itu salah gak ngasih coklat ke anjing?" tanya Si Bos untuk mengetes Kimin. Kimin lagsung cepat menjawab, "Ya nggak salah donk. Kan dia baek Bos, ngasih makan ke anjing.". Si Bos meneruskan dongengnya, "Oke ya, tu bocah nggak salah ya? Nah terus abis makan tuh coklat, si anjing murus-murus, muntah-muntah, sakit perut dan ini dan itu. Akhirnya tu anjing modar deh karna makan coklat. Gimana? Salah nggak tuh bocah ngasih coklat ke anjing?". Kimin berpikir sebentar lalu menjawab, "Hmmm.. Kalo matinya keselek, ya yang salah anjingnya Bos, bukan salah bocah kecil itu.". Si Bos melanjutkan lagi, "Naaah... Gini Min. Coklat itu mengandung teobromin. Itu zat yang bahaya buat anjing. Kalo anjing makan coklat, kandungan teobromin itu bakal terus ada di dalem darah anjing selama minimal 20 jam, susah di cerna ama anjing Min. Nah larutan itu tuh bisa bikin anjing epilepsi. Bisa jg serangan jantung. Kalo udah parah, anjingnya bisa muntah darah trus modar. Gimana, salah nggak tuh bocah ngasih coklat ke anjing?". Kimin berpikir sebentar, "Hmm... Ya salah sih. Soalnya ngasih racun ke anjing.". Si Bos tertawa sambil memastikan jawaban Kimin, "Haha.. Tadi katanya nggak salaaaaah... Lu jangan plin plan dooooonk....". Kimin membenarkan omongan Si Bos sambil manggut-manggut, "Iya ya.. Kalo nggak pernah tau baik buruknya, nggak bisa disalahin ya Bos ya?". Si Bos terkekeh, "Hehehe.. Mangka dari itu.. Koruptor gitu harusnya nggak boleh disalahin. Soalnya mereka nggak pernah belajar tentang agama, sopan santun, tata krama, kewarganegaraan, apalagi belas kasihan.. Mereka juga nggak tau Min, kalo sebenernya mereka itu cuma berperan sebage perantara antara presiden ama rakyat. Mereka kan yang diserahi duit. Jadi mungkin mereka nggak ngerasa kalo itu duit rakyat, lha wong nggak punya belas kasihan kok. Ya kan?". Kimin hanya manggut-manggut sambil meneruskan pijatannya, "Masih pegel Bos punggungnya?". Si Bos menjawab, "Masih lah.. Orang tadi gue kalah mulu maen remi!". Tawa Kimin lepas begitu saja, "Hahahahaha.... Siapa suruh maen remi sama saya pake taruhan gendong-gendongan. Hahahaha...".



Untuk mendengarkan dan mengunduh lagu soundtrack Koruptor Aseli by Victory Yankee, dapat menggunakan gadget di bawah ini.

0 comments:

Post a Comment