"Hoaaaaaaahm......"
Suara itu diikuti badan kurus yang meregang. Kulit sebagai penutup badan itu sudah mulai kendur. Namun tulang-tulang dan semangatnya masih kuat. Disusul oleh sebuah doa yang sakral, maka ia siap untuk memulai hari kerjanya. Sambil mengucek matanya, Kimin berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Tangannya sangat lihai meraih handuk yang digantungkan sejak semalam. Sambil berusaha terus membuka mata selebar-lebarnya, Kimin melihat sebuah pintu seng di hadapannya, "Yak.. Bentar lagi sampe ke air. Seger deh.". Begitu pikirnya sambil terus berusaha keras membuka matanya. Sesampainya di depan kamar mandi, Kimin melompat sekaget-kagetnya! Rasa ngantuknya tiba-tiba hilang karena sesosok makhluk dengan rambut berwarna hijau, tinggi dan gendut keluar dari balik pintu, "Hah!!" jeritnya sambil melompat ke belakang. Makhluk itu menyeringai, "Huaaah..!!". Kimin membalas lagi teriakannya, "Aaarrgh..!!". Makhluk itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya menyingkirkan kain yang menutupi pandangannya. Lalu terlihatlah muka makhluk itu, "Ah Bapak apa-apaan sih pagi-pagi teriak-teriak..". Kimin mengucek matanya sekali lagi untuk memastikan. Lalu jelaslah pandangannya bahwa makhluk itu adalah menantunya, "Yaolooooooh.... Aku kira teh genderuwo! Pantesan aneh.. Masa genderuwo pagi-pagi gini. Tapi mirip siah..". Tubuh genderuwo itu terguncang karena tawanya. Handuk berwarna hijau yang tadi menempel di kepala genderuwo jadi-jadian itu tiba-tiba lepas, dan terjatuh ke bahunya. Rambut genderuwo jadi-jadian itu basah oleh air. Kimin ikut tersenyum lega karena itu adalah menantunya. Bukan genderuwo jadi-jadian yang sedang asyik jogging di kamar mandi.
Semerbak wangi sabun memenuhi kamar tidur Kimin. Istrinya sedang sibuk membersihkan rumah; dibantu oleh anaknya perempuan. Anak laki-lakinya entah kemana; tidak di masukkan ke dalam episode ini. Menantunya sedang memberikan sarapan kepada anak kecil yang ternyata adalah cucu Kimin. Setelah bersiap, Kimin mengambil sepeda tuanya yang tersandar di tembok belakang. Catnya sudah pudar, namun nuansanya tetap kental seperti Kompeni. Pelan-pelan ia dorong sepedanya keluar rumah. "Buuuu.... Bapak berangkat dulu." serunya. Dari dalam kamar terdengar sahutan, "Hati-hati Paaaak...". Dari balik punggung Kimin terdengar suara, "Tuh Kakek berangkat. Kasih tangan ke Kakek sana. Bilang 'Dadah Kakeeeek' gih!". Lalu Kimin menengok sebentar ke arah belakang. Dilihatnya seorang anak kecil sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Kimin tersenyum melihatnya. Sebuah berkah pagi untuk Kimin.
Di salah satu jalanan besar di Jakarta, sebuah mobil sedan hitam legam sedang melaju di atas aspal panas. Di belakang setir duduklah seorang pemuda yang sedang serius mengamati padatnya jalan tol pagi itu. Tepat di belakang pemuda itu, duduklah seorang perempuan yang sangat rapih dengan setelan celana panjang dan jas berwarna abu-abu. Tengannya sibuk memainkan ballpoint dan kertas, sedang tangan yang satu lagi berada di dekat telinganya; sambil memegang ponsel. Sesekali ia melihat ke kanan, dan ke kiri, hanya untuk mengisi suasana. Sering sekali ponselnya berdering, dan bergetar. Lalu dengan sigap tangannya memainkan tombol di ponsel asal Canada itu. Suasana sibuk sangat terasa di bagian belakang mobil itu. Namun penyiar radio tak henti-hentinya mengoceh, dan memutar lagu pilihan pendengar. Sang supir tetap saja diam. Mukanya datar dan serius. Tangannya hanya berpindah dari setir, panel, dan persneling. Sedangkan perempuan keturunan Indo itu begitu akrab dengan ponsel, kertas dan ballpoint. Lalu ponselnya berdering lagi. Kali ini perempuan itu mengangkat dengan santai, "Ya Bos?" katanya. Dari balik ponsel itu terdengar suara, "Udah beres semalem kok Rin. Hari ini udah selesai. Paling ntar kita meeting direksi aja..". Bu Rina tersenyum lega, "Oke. Saya bikin jadwalnya.". Lalu percalapan itu selesai. Namun perempuan itu masih saja sibuk dengan ponselnya. Entah apa lagi yang ia lakukan, tapi raut mukanya menggambarkan sebuah kelegaan luar biasa. Tanpa diduga, si supir melihat ke spion tengah dan berkata, "Nanti jadi ke airport Bu?". Bu Rina menjawab sambil lalu, "Nggak jadi Gus.. Kata Si Bos udah beres kok. Jadi hari ini saya tetep di Jakarta.". Lalu tak ada jawaban lagi. Sekarang ganti Bu Rina yang membuka percakapan, "Ini udah liburan sekolah ya Gus?". Agus menjawab datar, "Nggak tau ya Bu.". Bu Rina menimpali lagi, "Emang udah kelar ujian ya?". Agus menjawab lagi dengan datar, "Iya kali..". Bu Rina hanya memaklumi. Memang penyakit Agus belum sembuh betul. Bu Rina hanya khawatir akan kehancuran dunia pergaulan gara-gara manusia yang kurang omong ini.
Di sisi lain kota super sibuk ini, tampak sebuah motor besar sedang melibas beberapa mobil. Mesin berkapasitas 1500cc itu tampak berteriak mengeluarkan suara menggelegar dan kasar. Terlihat sepasang mata sedang mengamati hiruk-pikuk jalanan kota. Di balik sebuah helm hitam, tergeletak seonggok otak yang berisikan sejuta ide kreatif. Tangannya dibalut oleh sarung tangan kulit berwarna hitam. Kakinya siap untuk memindahkan gigi dan menginjak rem. Dibalik sebuah jaket kulit, terdapat setelan kemeja berwarna putih dengan dasi hitam yang dihiasi penjepit dasi bernuansa perak. Dengan bermodalkan suara knalpot yang kencang dan kasar, pemuda itu mampu membuat beberapa bajaj dan mikrolet untuk menyediakan jalan untuknya. Dari cara mengendalikan motor besar, terlihat pemuda itu sudah sangat mengenal tunggangannya. Namun jika dilihat dari plastik berisi pastel, lumpia, lemper dan es cendol; pemuda ini terlihat kurang pantas duduk di atas motor gagah itu. "Buset ni hari penuh banget dah jalanan! Ada Si Komo lewat nih jangan-jangan.." begitu gumamnya dalam hati. Sambil berpura-pura menikmati kemacetan, matanya melihat ke sisi kanan dan kiri. Di sisi kirinya terlihat seorang sopir angkot yang sedang melihat ke kaca spion. Posisi dagunya lebih dekat ke kaca spion, dan tangannya memegang dua buah koin 100 perak. Perlahan-lahan dicabutnya satu-dua jenggot yang pendek. Tepat di sebelah depan supir angkot, tampak sebuah bajaj yang juga terpaksa berhenti karena macet. Wajah si supir bajaj terlihat datar sekali, seolah-olah di dunia ini tidak pernah terjadi suatu apapun. Kaki kirinya naik ke atas dashboard bajaj, dan sebuah handuk kecil yang dekil menghiasi setelan polo shirt yang sudah kumel itu. Di belakang supir bajaj terlihat seorang pemuda yang berumur sekitar 20 tahunan sedang duduk tanpa bersandar. Ada dua kemungkinan mengapa dia tidak bersandar: 1 Mungkin karena tas di punggungnya mengganjal sandarannya. 2 Mungkin dia tahu bahwa kaos dan tas yang dipakainya jauh lebih bersih daripada sandaran bajaj. Pengendara motor besar itu hanya tersenyum geli melihat sarana transportasi Jakarta. Setelahnya ia menengok ke sebelah kanan. Terlihat sebuah mobil sedan berwarna kuning, dan di atapnya terdapat sebuah neon box kecil yang bisa menyala jika tidak ada penumpang di dalamnya. Di dalam sedan itu duduklah seorang gadis menor yang sedang memoles wajahnya. Duduknya begitu santai dan nyaman. Sedangkan supir sedan itu mengenakan seragam resmi. Di sebelah setir sedan kuning itu terdapat sebuah panel berwarna hitam, dan angka yang tertulis di panel itu akan berubah mengikuti waktu, "Duapuluh rebu.. Dari maneee ni cewek. Mana macet pula. Bangkrut deh lu.." begitu pikir si pengendara motor besar. Pikirannya segera buyar oleh sebuah bis besar yang melaju jauh di sebelah kanannya. "Enak kali ya kalo punya jalur sendiri kayak bis tadi.." gumamnya iri. Laju bis itu diikuti sepeda motor, dan mobil tepat di belakangnya. "Walah.. Dasar bener-bener dah. Udah tau tu jalur buat busway, masih aja dipake buat kendaraan pribadi." ucapnya dari balik helm. Tak lama setelahnya, sebuah sedan hitam melaju menyusul bus tadi, "Ini lagi.. Nggak warga, nggak petinggi negara sama aja. Nggak malu ama plat nomer kali ya.." ucapnya sambil terkekeh mentertawakan kebudayaan kota ini.
Kata orang-orang, ini adalah kota 24jam. Saat pagi akan penuh dengan orang yang berangkat kerja, sekolah dan kuliah. Saat siang, akan penuh dengan orang yang sibuk mencari makan siang. Saat sore, orang akan berbondong-bondong kembali ke rumah tinggal masing-masing. Menjelang malam, kota ini akan penuh oleh orang-orang yang mencari suasana untuk makan malam. Saat tengah malam, kota ini masih disibukkan oleh orang-orang yang pulang lembur, dan orang-orang yang berangkat untuk menikmati hiburan malam. Saat fajar tiba, para pengamen, pengemis, dan pemabuk sedang memenuhi jalanan untuk briefing dan memulai kegiatannya masing-masing. Di sisi lain, keadaan kantor Si Bos tidak sesibuk biasanya. Sejak dua hari yang lalu, kantor ini memulai masa santainya. Produksi dan omset sudah jauh melebihi target bulan ini. Namun hal itu tidak berlaku bagi Kimin. Bagaimana tidak, Kimin tidak bekerja untuk perusahaan ini. Kimin hanya bekerja untuk Si Bos. Sepeda tua Kimin sudah terparkir sejak jam delapan lebih. Sekarang Kimin sedang berada di pantry untuk menyiapkan air. Setelah air dinaikkan ke atas kompor, cangkir aluminium mulai ditata rapih, dan kursi berlabel "KIMIN" sudah pada posisinya. Kemudian Kimin duduk di atas kursi pribadinya itu, dan sesekali melirik jam tangannya, "Pas.. Lima menit nih." gumamnya dalam hati. Sambil menunggu Si Bos, Kimin menikmati suasana kantor pagi ini. Seperti dua hari yang lalu, para karyawan masih sibuk mengobrol satu sama lain. Untuk karyawan pria, mereka saling berbagi informasi seputar otomotif, musik, dan dunia laki-laki yang lainnya. "Eh udah tau lo? Audi keluar R8 yang GT bro! Katanya bodinya lebih ringan. Bla bla bla.." begitulah kata seseorang di gerombolan dekat Kimin. Sedangkan para karyawati bertukar informasi seputar selebriti, fashion, dan trend, "Eh eh.. Katanya sekarang udah ngaku loh, kalo video itu emang punya dia!" begitu ujar salah seorang dari gerombolan dekat ruangan Si Bos. Gerombolan yang lain malah lepas dari pembicaraan itu. Namun mereka sedang bertukar informasi yang terlihat cukup Hi-Tech, "Twitter ribut yak? Bused dah.. Pekara RT aja sampe ribut gitu ya? Gw si enjoy aja dah yang penting." begitulah ucap salah seorang dari gerombolan lain. Kimin hanya senyum-senyum saja sendirian. Ia tidak terlalu ambil pusing akan hal-hal seperti itu. Cukup dengan memikirkan makan tiap hari, berbuat baik, dan tugas-tugasnya saja sudah membuat kuwalahan. Apalagi hidup di daerah kampung, membuat Kimin agak tertutup dari hal-hal macam itu. Kemudian secara serentak gerombolan-gerombolan itu mulai terpecah. Satu-persatu orang sudah mulai memposisikan dirinya di balik meja. Dari lorong yang jauh juga sudah terdengar riuh orang, dan ocehan Bu Rina. Walau tidak seramai biasanya, namun suara ramai itu tetap ada. Tepat sekali dugaan Kimin, gerombolan manusia itu datang bersama Si Bos, dan juga Bu Rina. Sejak dua hari ini, gerombolan manusia yang biasanya terlihat sangat ramai itu, tidak lagi terlihat penuh sesak. Namun Bu Rina tetap saja berperan sebagai burung Beo. Mengoceh tentang ini, dan itu sambil memainkan ponselnya. Si Bos juga manggut-manggut mendengarkan Bu Rina sambil menunjuk-nunjuk kertas di hadapannya; sesekali ia memberikan tanda tangan pada kertas-kertas itu. Di atas sebuah kursi, Kimin sedang membenarkan posisi duduknya. Lalu Si Bos, Bu Rina, dan beberapa manusia itu berhenti tepat di depan pintu ruang direktur; semuanya diam dan tenang. Sama seperti beberapa waktu silam, Si Bos menengok ke sebelah kiri, membuka mulutnya, daaaan, "Miiiiiiin....!!". Kimin melihat ke arah Si Bos dan menjawab, "Ya Booooos....?". Si Bos melontarkan senyumnya sambil berkata, "Kopi Miiiiiiin...". Lalu Kimin menjawab, "Siap Boooooos.....". Percakapan itu selalu terulang setiap pagi. Bahkan pada hari libur, biasanya Si Bos menyempatkan diri untuk menelepon Kimin hanya untuk mengucapkan percakapan itu. Dan benar saja, Kimin datang ke apartment Si Bos untuk sekedar membuat kopi untuk Si Bos, mengobrol, dan berjalan-jalan melihat-lihat Jakarta.
"Tok.. Tok..", "Permisi Booooos....." kata Kimin seperti biasanya. Dari balik pintu ruang direktur terdengar sahutan, "Masuklah kemari, hai Mister Kimin!". "Cklek.." pintu dibukanya dengan pelan, dan Kimin masuk ke ruangan Si Bos. Belum sempat ditaruhnya kopi di meja Si Bos, Kimin menyempatkan diri untuk mengomentari penampilan Bu Rina pagi ini, "Wah Bu Rina cantik pisaaaaaan (Wah Bu Rina cantik sekaliiiiiiiii.red)!". "Woi! Inget umur. Siniin kopi gue." sahut Si Bos. Kimin menyela Si Bos katanya, "Yeee..! Si Bos. Jadi orang tuh kudu sabar Booooos... Inget kata pepatah: orang sabar, disa..", belum selesai bicara, Si Bos memotong "Disayang penyiarrrr...! Sini ah!". Bu Rina tertawa kecil sambil mukanya tetap merah atas sanjungan Kimin. "Srupuuuth..", "Aaaah.. Manteb Min." kata Si Bos. Namun Kimin tidak menghiraukannya. Malah Kimin melihat Bu Rina sambil mengoceh, "Kacamatanya baru Bu Rina? Bagus euy!". Bu Rina menjawab, "Tambah cantik gak?". Belum sempat Kimin menjawab, Si Bos malah menjawab, "Cantiiiik cantik.... Kayak pemeran lenong bocah.". Bu Rina menanggapi Si Bos, "Biarin! Pokoknya cantik.". Lain halnya dengan Bu Rina, Kimin malah tertawa mendengar jawaban Si Bos, "Hehe.. Si Bos mah.. Asal. Cantik kok Bu, cocok. Hehe..". Si Bos tetap menggodai Bu Rina, "Harusnya kamu tuh kalo ketemu orang-orang bilang gini Rin, 'Oy penontooooooon...!!!' trus d lanjut pantun. Gituuu..!". "Hahaha..." Kimin tertawa lagi melihat Si Bos yang terlihat lihai sekali melenong. Bu Rina membalas Si Bos, "Si Bos aja sana." jawabnya judes. Lantas Kimin bertanya pada Si Bos, "Si Bos kenapa betawi banget ya kayaknya? Aslinya mana sih Bos?". Sambil memainkan ponselnya, "Si Bos menjawab, "Aye asli dari India Min.". Bu Rina mentertawakan Si Bos, "Hahahahaha.. India kok sipit! Hahaha..". Kimin ikut-ikutan tertawa saja. Padahal sebenarnya ia tidak tahu apa yang lucu. Si Bos cuek saja seperti biasanya. Sambil terus sibuk memainkan game di ponselnya, Si Bos berkata lagi, "Yaudaah... Kalo nggak India, gue asli Arab..". "Hahahahahaha.... Sama aja!" sahut Bu Rina. Tiba-tiba Si Bos berkata, "Eh, maen ular tangga yuk!". Kimin menjawab, "Males ah..! Si Bos suka bikin aturan ndiri..!". Sedangkan Bu Rina menjawab, "Mending BBM'an deh daripada maen ular tangga ma Si Bos." lalu Bu Rina mulai memainkan ponselnya. Hari ini memang hari yang santai bagi para karyawan. Oleh sebab itu Si Bos merasa agak suntuk. Bukan karena ponselnya tidak menyediakan game. Namun Si Bos lebih menyukai mengisi waktunya bersama orang lain, bukan hanya dengan ponselnya sendiri. "Nggak mau ya udah.." kata Si Bos sambil mengeluarkan jajanan pasar dari dalam plastik berwarna hitam. Melihat makanan itu, Kimin berkata, "Ah..!! Saya lupa euy Bos..!! Kemarin istri saya bikin jentik manis.". Si Bos matanya langsung berapi-api, "Wah! Mau donk! Gue doyan banget tuh!". Kimin meneruskan, "Maka itu. Saya juga tau Si Bos doyan. Tapi saya lupa bawa euy... Besok saya bawain onde-onde deket rumah saya deh. Enak pisan Bos! Bener!" katanya sambil mengacungkan jempolnya. Bu Rina ikut menyahut, "Saya juga ya Min?" katanya sambil kedua matanya tetap memandang ponselnya. Dengan sedikit heran, Kimin bertanya, "Bu Rina doyan jajanan pasar?". Si Bos juga bertanya, "Hah? Kamu doyan Rin?" sambil mulutnya penuh dengan ketan yang berasal dari lemper. "Ih Si Bos jorok iiiiiih....!!" sahut Bu Rina. Lalu cepat-cepat Bu Rina mengambil tissue dan membersihkan dasi Si Bos yang terkena ketan dari dalam mulutnya. "Kalo makan jangan ngobrol Bos. Jorok ih muncrat!" katanya sambil terus membersihkan dasi Si Bos. Si Bos tetap menjilati jari-jarinya, membersihkannya dari sisa lemper, "Ah bisa di cuci ini. Ribet amat..". Kimin bertanya lagi, "Bu Rina doyan onde-onde?". Sambil memberikan tissue kepada Kimin, Bu Rina menjawab, "Tolong buangin Min..". Lalu Kimin menginjak tempat sampah yang dekat dengan kakinya, lalu membuang tissue itu ke dalamnya. "Ya doyan lah. Cuman kadang minyaknya banyak.. Makanya saya nggak doyan. Kalo yang di deket rumah kamu kan bersih, minyaknya juga nggak banjir gitu." kata Bu Rina. Si Bos bertanya kepada Bu Rina, "Emang pernah?!". Kimin menepuk dahinya dan berkata, "Oh iya yak! Kan Bu Rina dulu pernah beli ya? Lupa saya. Hehe..". Bu Rina menjawab Kimin dengan senyuman. Lalu Kimin menjawab, "Yaudah besok saya bawain." katanya sambil tersenyum senang. "Nih Min.." kata Si Bos sambil menyodorkan uang kepada Kimin. Kimin menolaknya, "Ah nggak usah Bos! Kan saya yang mau beliin.". Si Bos mengancam, "Eeeeiiiit...!!!". Kimin menjawab lagi, "Nggak usah Bos ah!". Si Bos benar-benar mengancam, "Gue naikin gaji lu sepuluh kali lipat nih?!". Lalu Kimin menjawab dengan sesal, "Ah Si Bos mah.." dan tangannya terulur menerima uang itu karena takut ancaman dari Si Bos.
Walau suasana sekarang sudah siang, namun kantor ini tetap tidak menunjukkan jam sibuknya. Dari tadi pagi, kantor ini terasa sangat lapang. Orang-orang yang mondar-mandir tidak sebanyak biasanya. Si Bos juga santai-santai saja di dalam ruangannya. Bu Rina juga sibuk dengan Twitternya sejak pagi tadi. Kimin sedang ketawa-ketiwi menonton televisi dari komputer Si Bos, "Hehe.. Kocak dah ni. Haha..". Si Bos berdiri di dekat kaca jendela. Tangannya terlipat di belakang. Matanya menerawang melihat langit dan bangunan-bangunan yang terlihat olehnya. Mobil-mobil terlihat begitu kecil dari jendela ini. Beberapa atap bangunan terlihat sejajar pandangan mata. Langit abu-abu kota Jakarta selalu menjadi lukisan pada jendela ini. Tiba-tiba lamunannya terbuyarkan oleh omongan Kimin, "Bos, mindah cenelnya gimana ya? Kok remotnya saya pencet-pencet ke tipi kok gak ngaruh Bos?" katanya dari balik meja Si Bos. Kemudian Si Bos membalikkan badannya dan melihat ke arah Kimin, "Remotenya di arahin ke tv tunernya, bukan ke cinema displaynya.". Kimin bertanya, "He? Kemana Bos? Ke tipi cyuner? Yang mana tuh Bos.". Kemudian Si Bos berkata, "Taroh jidat lu tu ah! Ribet amat si.. Mending kesini nih, ngeliat Jakarta dari atas.". Kemudian Kimin menaruh remotenya ke atas meja, dan meninggalkan kursi Si Bos. Kimin berjalan menuju Si Bos, dan berdiri di sampingnya. "Wah.. Ternyata Jakarta dari atas kayak gini ya?" kagumnya terhadap pemandangan yang baru dilihatnya itu. "Keren ya Bos ya?". Si Bos tersenyum dan mengangguk. Karena penasaran, Bu Rina beranjak dari sofa, dan menghampiri jendela. "Tolong matiin TVnya Rin.." kata Si Bos. Kemudian Bu Rina membelokkan langkahnya dan meraih remote TV. Tak lama kemudian Bu Rina ikut bergabung bersama mereka. Kimin masih saja terkagum-kagum; tangannya menelapak memegang jendela kaca itu. Kaca yang dihadapannya berembun karena nafasnya. "Apa yang lu liat Min?" tanya Si Bos. Kimin menjawab singkat, "Banyak.. Tapi burem. Ngembun!" katanya sambil mengusap-usap kaca jendela dengan tangannya. Kemudian Si Bos melihat ke sisi jauh dari pandangannya, "Apa yang kamu liat Rin?". Bu Rina menjawab dengan ragu-ragu, "Hmmmm... Gedung tinggi?". Kemudian Si Bos diam sebentar. "Keren ya?" tanya Si Bos. Bu Rina mengangguk, begitu juga Kimin. Lagi-lagi Si Bos bertanya, "Hebat ya Jakarta?". Kimin dan Bu Rina hanya menjawab dengan anggukan. "Tapi ini yang kalian lihat dari atas. Apa yang kalian liat dari bawah, nggak akan sekeren dan sehebat ini.". Bu Rina membenarkan posisi kacamatanya, "Maksud Si Bos?". Si Bos tersenyum sambil menjelaskan, "Kalo dari atas, kita bisa melihat kemegahan Jakarta. Betapa Jakarta tuh kota yang gede, kota yang kaya, banyak gedung-gedung tinggi.. Tuh air mancur HI aja keliatan tuh dari sini." katanya sambil menunjuk ke arah yang jauh. Kimin mengikuti arah yang ditunjukkan Si Bos. Sambil menajamkan pandangannya Kimin menyela, "Itu bukan air mancur HI kali Bos..". Bu Rina menambahkan, "Iya. Itu bukan bunderan HI tau Bos.". Si Bos tersenyum, "Emang.". Kimin dan Bu Rina saling berpandangan. Lalu Bu Rina bertanya, "Trus kok Si Bos bilang itu bunderan HI?". Si Bos tertawa, "Hehehe.. Ya biar kalian percaya aja. Itu tuh air muncrat. Ada kebocoran di situ. Tapi keliatannya kayak air mancur di HI kan?". Kimin meragukan, "Ah Si Bos mah ada-ada aja. Mana ada aer muncrat Bos..". Si Bos tersenyum ke arah Kimin, lalu melihat lagi ke arah air itu, "Rin, ambilin binocular yang ada di laci saya.". Lalu Bu Rina meninggalkan mereka berdua, dan mengambil binocular milik Si Bos yang tersimpan pada laci meja kerjanya. "Ini Bos.." kata Bu Rina sambil memberikan binocular itu kepada Si Bos. Lalu Si Bos menerimanya, "Thanks.." dan memberikannya kepada Kimin, "Coba liat pake ini.". Kimin langsung melongo, "Wah iya! Itu aer muncrat! Ada yang bocor tuh!". Bu Rina meminta binocular itu dari Kimin, "Mana coba liat!" katanya sambil memposisikan binocular itu di depan matanya, "O iya ya.. Wah di mana ya itu?". Si Bos hanya tersenyum lalu meneruskan ceritanya, "Nah... Gimana pendapat kalian tentang Jakarta dari atas? Kita bisa ngeliat kemegahannya, kehebatannya. Tapi kadang kita nggak bisa ngeliat kacaunya, remuknya, dan jelek-jeleknya. Kita cuman bisa melihat yang kayak gitu-gitu tuh dari deket. Kalo kita selalu di atas, kita cuman ngeliat semuanya seolah nggak ada masalah. Tapi kalo kita di bawah, kita bisa ngerasain masalah-masalah itu.". Sambil menikmati pandangan dari binocularnya, Bu Rina bertanya, "Saya masih nggak ngerti Bos..". Kimin menyela Bu Rina, "Ah.. Bu Rina gitu aja nggak tau. Itu tuh sindiran buat para pegawai negara ini lho Bu. Yang itu tuh, yang kerjanya cuman rapat-rapat trus makan duit rakyat tuh. Mereka kan selalu di atas, sok-sokan jadi penguasa. Mangkanya mereka ngeliat semuanya itu dari jauh, nggak pernah ngeliat dari deket. Hasilnya, yaaaaa duit rakyat ditilep aja. Mereka kan anggepnya kita-kita ini udah makmur.. Gitu kan ya Bos?" tanyanya sambil melihat ke arah Si Bos. Si Bos tertawa geli, "Hahahahaha... Ya itu bener sih, tapi yang gue maksud tuh bukan itu! Orang gue cuman mau jelasin kalo kita di atas sini, kita bisa liat semuanya, tapi kecil-kecil. Kalo kita di bawah sana, kita bisa ngeliat secara langsung. Bisa ngerasain langsung. Gitu...!! Ah elu Min, demen banget nyindir mereka. Macem penulis blog aja lu, suka nyindir orang-orang atas.". "Hahahahahahahaha......." lalu mereka bertiga tertawa puas. Selesai dengan tawanya, Si Bos berkata, "Naaah.. Kalo di atas terus, kita nggak bisa ngerasain yang di bawah. Betul nggak?". Kimin dan Bu Rina menjawab bergantian, "Betul.. Betul.". Si Bos mengambil ponselnya, dan berkata, "Naaah.. Kalo gitu mending kita jalan-jalan yuk di bawah! Kita jalan-jalan bareng Agus, trus nyari tempat nongkrong deh. Kita ngerasain ngupi-ngupi sambil makan cake di bawah sana. Setuju?!!". "Setujuuuuuu...!!" kata Kimin dan Bu Rina kompak.
Hidup memang tak selamanya di atas. Kadang memang seseorang perlu melakukan tinjauan ke bawah. Di atas terus, akan membuat kita lupa akan hal-hal kecil yang ada di bawah sana. Sedangkan di bawah terus, akan membuat kita semakin pesimis karena melihat hal-hal besar yang ada di atas. Dalam sebuah lift yang sedang menuju ke bawah, terdapat tiga orang manusia. Satu manusia perempuan dengan frame kacamata baru, satu orang pemuda pemilik perusahaan yang saat ini sedang menggunakan seragam office boy, dan seorang paruh baya yang menjabat sebagai OB istimewa sedang menggunakan setelan kemeja rapih lengkap dengan penjepit dasi bernuansa perak. Setiap lantai yang dilewati lift itu mendengar teriakan-teriakan dari dalam lift. Sayu-sayu dari lantai UG ikut terdengar ocehan-ocehan dengan nada tinggi. Lambat laun suara itu makin keras. Dan setelah pintu lift terbuka, Agus yang sudah siap di samping mobil sedan berwarna hitam itu, mendengarkan percakapan mereka bertiga, "Tapi kan ini ke coffee shop Rin! Namanya aja C O F F E E shop. Ya kopi lah!". Lalu seorang perempuan menjawab, "Ya kalo ngopi sekarang ya jadi nanti sore nggak ada jatah kopi donk? Bener nggak Min?". Orang setengah tua itu sibuk mengendurkan dasinya, "Iya sih Bos, bener Bu Rina. Sehari kan jatahnya dua cangkir kopi. Ini dasi kok sesek ya? Tolong donk Bos.. Bu Rina.. Sesek..". Sambil mengerenyitkan alisnya, Si Bos berkata, "Kalo nggak boleh ngopi, Kimin saya buang ke Disneyland nih!". Bu Rina menjawab, "Bodo. Nyalain mobilnya Gus.". Agus menjawab, "Iya.". Seorang yang berdasi itu masih saja ribut, "Sesek euy. Punten kang Bos, teteh Rina. Ieu kumaha?! Sesek dasina!".
Suara itu diikuti badan kurus yang meregang. Kulit sebagai penutup badan itu sudah mulai kendur. Namun tulang-tulang dan semangatnya masih kuat. Disusul oleh sebuah doa yang sakral, maka ia siap untuk memulai hari kerjanya. Sambil mengucek matanya, Kimin berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Tangannya sangat lihai meraih handuk yang digantungkan sejak semalam. Sambil berusaha terus membuka mata selebar-lebarnya, Kimin melihat sebuah pintu seng di hadapannya, "Yak.. Bentar lagi sampe ke air. Seger deh.". Begitu pikirnya sambil terus berusaha keras membuka matanya. Sesampainya di depan kamar mandi, Kimin melompat sekaget-kagetnya! Rasa ngantuknya tiba-tiba hilang karena sesosok makhluk dengan rambut berwarna hijau, tinggi dan gendut keluar dari balik pintu, "Hah!!" jeritnya sambil melompat ke belakang. Makhluk itu menyeringai, "Huaaah..!!". Kimin membalas lagi teriakannya, "Aaarrgh..!!". Makhluk itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya menyingkirkan kain yang menutupi pandangannya. Lalu terlihatlah muka makhluk itu, "Ah Bapak apa-apaan sih pagi-pagi teriak-teriak..". Kimin mengucek matanya sekali lagi untuk memastikan. Lalu jelaslah pandangannya bahwa makhluk itu adalah menantunya, "Yaolooooooh.... Aku kira teh genderuwo! Pantesan aneh.. Masa genderuwo pagi-pagi gini. Tapi mirip siah..". Tubuh genderuwo itu terguncang karena tawanya. Handuk berwarna hijau yang tadi menempel di kepala genderuwo jadi-jadian itu tiba-tiba lepas, dan terjatuh ke bahunya. Rambut genderuwo jadi-jadian itu basah oleh air. Kimin ikut tersenyum lega karena itu adalah menantunya. Bukan genderuwo jadi-jadian yang sedang asyik jogging di kamar mandi.
Semerbak wangi sabun memenuhi kamar tidur Kimin. Istrinya sedang sibuk membersihkan rumah; dibantu oleh anaknya perempuan. Anak laki-lakinya entah kemana; tidak di masukkan ke dalam episode ini. Menantunya sedang memberikan sarapan kepada anak kecil yang ternyata adalah cucu Kimin. Setelah bersiap, Kimin mengambil sepeda tuanya yang tersandar di tembok belakang. Catnya sudah pudar, namun nuansanya tetap kental seperti Kompeni. Pelan-pelan ia dorong sepedanya keluar rumah. "Buuuu.... Bapak berangkat dulu." serunya. Dari dalam kamar terdengar sahutan, "Hati-hati Paaaak...". Dari balik punggung Kimin terdengar suara, "Tuh Kakek berangkat. Kasih tangan ke Kakek sana. Bilang 'Dadah Kakeeeek' gih!". Lalu Kimin menengok sebentar ke arah belakang. Dilihatnya seorang anak kecil sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Kimin tersenyum melihatnya. Sebuah berkah pagi untuk Kimin.
Di salah satu jalanan besar di Jakarta, sebuah mobil sedan hitam legam sedang melaju di atas aspal panas. Di belakang setir duduklah seorang pemuda yang sedang serius mengamati padatnya jalan tol pagi itu. Tepat di belakang pemuda itu, duduklah seorang perempuan yang sangat rapih dengan setelan celana panjang dan jas berwarna abu-abu. Tengannya sibuk memainkan ballpoint dan kertas, sedang tangan yang satu lagi berada di dekat telinganya; sambil memegang ponsel. Sesekali ia melihat ke kanan, dan ke kiri, hanya untuk mengisi suasana. Sering sekali ponselnya berdering, dan bergetar. Lalu dengan sigap tangannya memainkan tombol di ponsel asal Canada itu. Suasana sibuk sangat terasa di bagian belakang mobil itu. Namun penyiar radio tak henti-hentinya mengoceh, dan memutar lagu pilihan pendengar. Sang supir tetap saja diam. Mukanya datar dan serius. Tangannya hanya berpindah dari setir, panel, dan persneling. Sedangkan perempuan keturunan Indo itu begitu akrab dengan ponsel, kertas dan ballpoint. Lalu ponselnya berdering lagi. Kali ini perempuan itu mengangkat dengan santai, "Ya Bos?" katanya. Dari balik ponsel itu terdengar suara, "Udah beres semalem kok Rin. Hari ini udah selesai. Paling ntar kita meeting direksi aja..". Bu Rina tersenyum lega, "Oke. Saya bikin jadwalnya.". Lalu percalapan itu selesai. Namun perempuan itu masih saja sibuk dengan ponselnya. Entah apa lagi yang ia lakukan, tapi raut mukanya menggambarkan sebuah kelegaan luar biasa. Tanpa diduga, si supir melihat ke spion tengah dan berkata, "Nanti jadi ke airport Bu?". Bu Rina menjawab sambil lalu, "Nggak jadi Gus.. Kata Si Bos udah beres kok. Jadi hari ini saya tetep di Jakarta.". Lalu tak ada jawaban lagi. Sekarang ganti Bu Rina yang membuka percakapan, "Ini udah liburan sekolah ya Gus?". Agus menjawab datar, "Nggak tau ya Bu.". Bu Rina menimpali lagi, "Emang udah kelar ujian ya?". Agus menjawab lagi dengan datar, "Iya kali..". Bu Rina hanya memaklumi. Memang penyakit Agus belum sembuh betul. Bu Rina hanya khawatir akan kehancuran dunia pergaulan gara-gara manusia yang kurang omong ini.
Di sisi lain kota super sibuk ini, tampak sebuah motor besar sedang melibas beberapa mobil. Mesin berkapasitas 1500cc itu tampak berteriak mengeluarkan suara menggelegar dan kasar. Terlihat sepasang mata sedang mengamati hiruk-pikuk jalanan kota. Di balik sebuah helm hitam, tergeletak seonggok otak yang berisikan sejuta ide kreatif. Tangannya dibalut oleh sarung tangan kulit berwarna hitam. Kakinya siap untuk memindahkan gigi dan menginjak rem. Dibalik sebuah jaket kulit, terdapat setelan kemeja berwarna putih dengan dasi hitam yang dihiasi penjepit dasi bernuansa perak. Dengan bermodalkan suara knalpot yang kencang dan kasar, pemuda itu mampu membuat beberapa bajaj dan mikrolet untuk menyediakan jalan untuknya. Dari cara mengendalikan motor besar, terlihat pemuda itu sudah sangat mengenal tunggangannya. Namun jika dilihat dari plastik berisi pastel, lumpia, lemper dan es cendol; pemuda ini terlihat kurang pantas duduk di atas motor gagah itu. "Buset ni hari penuh banget dah jalanan! Ada Si Komo lewat nih jangan-jangan.." begitu gumamnya dalam hati. Sambil berpura-pura menikmati kemacetan, matanya melihat ke sisi kanan dan kiri. Di sisi kirinya terlihat seorang sopir angkot yang sedang melihat ke kaca spion. Posisi dagunya lebih dekat ke kaca spion, dan tangannya memegang dua buah koin 100 perak. Perlahan-lahan dicabutnya satu-dua jenggot yang pendek. Tepat di sebelah depan supir angkot, tampak sebuah bajaj yang juga terpaksa berhenti karena macet. Wajah si supir bajaj terlihat datar sekali, seolah-olah di dunia ini tidak pernah terjadi suatu apapun. Kaki kirinya naik ke atas dashboard bajaj, dan sebuah handuk kecil yang dekil menghiasi setelan polo shirt yang sudah kumel itu. Di belakang supir bajaj terlihat seorang pemuda yang berumur sekitar 20 tahunan sedang duduk tanpa bersandar. Ada dua kemungkinan mengapa dia tidak bersandar: 1 Mungkin karena tas di punggungnya mengganjal sandarannya. 2 Mungkin dia tahu bahwa kaos dan tas yang dipakainya jauh lebih bersih daripada sandaran bajaj. Pengendara motor besar itu hanya tersenyum geli melihat sarana transportasi Jakarta. Setelahnya ia menengok ke sebelah kanan. Terlihat sebuah mobil sedan berwarna kuning, dan di atapnya terdapat sebuah neon box kecil yang bisa menyala jika tidak ada penumpang di dalamnya. Di dalam sedan itu duduklah seorang gadis menor yang sedang memoles wajahnya. Duduknya begitu santai dan nyaman. Sedangkan supir sedan itu mengenakan seragam resmi. Di sebelah setir sedan kuning itu terdapat sebuah panel berwarna hitam, dan angka yang tertulis di panel itu akan berubah mengikuti waktu, "Duapuluh rebu.. Dari maneee ni cewek. Mana macet pula. Bangkrut deh lu.." begitu pikir si pengendara motor besar. Pikirannya segera buyar oleh sebuah bis besar yang melaju jauh di sebelah kanannya. "Enak kali ya kalo punya jalur sendiri kayak bis tadi.." gumamnya iri. Laju bis itu diikuti sepeda motor, dan mobil tepat di belakangnya. "Walah.. Dasar bener-bener dah. Udah tau tu jalur buat busway, masih aja dipake buat kendaraan pribadi." ucapnya dari balik helm. Tak lama setelahnya, sebuah sedan hitam melaju menyusul bus tadi, "Ini lagi.. Nggak warga, nggak petinggi negara sama aja. Nggak malu ama plat nomer kali ya.." ucapnya sambil terkekeh mentertawakan kebudayaan kota ini.
Kata orang-orang, ini adalah kota 24jam. Saat pagi akan penuh dengan orang yang berangkat kerja, sekolah dan kuliah. Saat siang, akan penuh dengan orang yang sibuk mencari makan siang. Saat sore, orang akan berbondong-bondong kembali ke rumah tinggal masing-masing. Menjelang malam, kota ini akan penuh oleh orang-orang yang mencari suasana untuk makan malam. Saat tengah malam, kota ini masih disibukkan oleh orang-orang yang pulang lembur, dan orang-orang yang berangkat untuk menikmati hiburan malam. Saat fajar tiba, para pengamen, pengemis, dan pemabuk sedang memenuhi jalanan untuk briefing dan memulai kegiatannya masing-masing. Di sisi lain, keadaan kantor Si Bos tidak sesibuk biasanya. Sejak dua hari yang lalu, kantor ini memulai masa santainya. Produksi dan omset sudah jauh melebihi target bulan ini. Namun hal itu tidak berlaku bagi Kimin. Bagaimana tidak, Kimin tidak bekerja untuk perusahaan ini. Kimin hanya bekerja untuk Si Bos. Sepeda tua Kimin sudah terparkir sejak jam delapan lebih. Sekarang Kimin sedang berada di pantry untuk menyiapkan air. Setelah air dinaikkan ke atas kompor, cangkir aluminium mulai ditata rapih, dan kursi berlabel "KIMIN" sudah pada posisinya. Kemudian Kimin duduk di atas kursi pribadinya itu, dan sesekali melirik jam tangannya, "Pas.. Lima menit nih." gumamnya dalam hati. Sambil menunggu Si Bos, Kimin menikmati suasana kantor pagi ini. Seperti dua hari yang lalu, para karyawan masih sibuk mengobrol satu sama lain. Untuk karyawan pria, mereka saling berbagi informasi seputar otomotif, musik, dan dunia laki-laki yang lainnya. "Eh udah tau lo? Audi keluar R8 yang GT bro! Katanya bodinya lebih ringan. Bla bla bla.." begitulah kata seseorang di gerombolan dekat Kimin. Sedangkan para karyawati bertukar informasi seputar selebriti, fashion, dan trend, "Eh eh.. Katanya sekarang udah ngaku loh, kalo video itu emang punya dia!" begitu ujar salah seorang dari gerombolan dekat ruangan Si Bos. Gerombolan yang lain malah lepas dari pembicaraan itu. Namun mereka sedang bertukar informasi yang terlihat cukup Hi-Tech, "Twitter ribut yak? Bused dah.. Pekara RT aja sampe ribut gitu ya? Gw si enjoy aja dah yang penting." begitulah ucap salah seorang dari gerombolan lain. Kimin hanya senyum-senyum saja sendirian. Ia tidak terlalu ambil pusing akan hal-hal seperti itu. Cukup dengan memikirkan makan tiap hari, berbuat baik, dan tugas-tugasnya saja sudah membuat kuwalahan. Apalagi hidup di daerah kampung, membuat Kimin agak tertutup dari hal-hal macam itu. Kemudian secara serentak gerombolan-gerombolan itu mulai terpecah. Satu-persatu orang sudah mulai memposisikan dirinya di balik meja. Dari lorong yang jauh juga sudah terdengar riuh orang, dan ocehan Bu Rina. Walau tidak seramai biasanya, namun suara ramai itu tetap ada. Tepat sekali dugaan Kimin, gerombolan manusia itu datang bersama Si Bos, dan juga Bu Rina. Sejak dua hari ini, gerombolan manusia yang biasanya terlihat sangat ramai itu, tidak lagi terlihat penuh sesak. Namun Bu Rina tetap saja berperan sebagai burung Beo. Mengoceh tentang ini, dan itu sambil memainkan ponselnya. Si Bos juga manggut-manggut mendengarkan Bu Rina sambil menunjuk-nunjuk kertas di hadapannya; sesekali ia memberikan tanda tangan pada kertas-kertas itu. Di atas sebuah kursi, Kimin sedang membenarkan posisi duduknya. Lalu Si Bos, Bu Rina, dan beberapa manusia itu berhenti tepat di depan pintu ruang direktur; semuanya diam dan tenang. Sama seperti beberapa waktu silam, Si Bos menengok ke sebelah kiri, membuka mulutnya, daaaan, "Miiiiiiin....!!". Kimin melihat ke arah Si Bos dan menjawab, "Ya Booooos....?". Si Bos melontarkan senyumnya sambil berkata, "Kopi Miiiiiiin...". Lalu Kimin menjawab, "Siap Boooooos.....". Percakapan itu selalu terulang setiap pagi. Bahkan pada hari libur, biasanya Si Bos menyempatkan diri untuk menelepon Kimin hanya untuk mengucapkan percakapan itu. Dan benar saja, Kimin datang ke apartment Si Bos untuk sekedar membuat kopi untuk Si Bos, mengobrol, dan berjalan-jalan melihat-lihat Jakarta.
"Tok.. Tok..", "Permisi Booooos....." kata Kimin seperti biasanya. Dari balik pintu ruang direktur terdengar sahutan, "Masuklah kemari, hai Mister Kimin!". "Cklek.." pintu dibukanya dengan pelan, dan Kimin masuk ke ruangan Si Bos. Belum sempat ditaruhnya kopi di meja Si Bos, Kimin menyempatkan diri untuk mengomentari penampilan Bu Rina pagi ini, "Wah Bu Rina cantik pisaaaaaan (Wah Bu Rina cantik sekaliiiiiiiii.red)!". "Woi! Inget umur. Siniin kopi gue." sahut Si Bos. Kimin menyela Si Bos katanya, "Yeee..! Si Bos. Jadi orang tuh kudu sabar Booooos... Inget kata pepatah: orang sabar, disa..", belum selesai bicara, Si Bos memotong "Disayang penyiarrrr...! Sini ah!". Bu Rina tertawa kecil sambil mukanya tetap merah atas sanjungan Kimin. "Srupuuuth..", "Aaaah.. Manteb Min." kata Si Bos. Namun Kimin tidak menghiraukannya. Malah Kimin melihat Bu Rina sambil mengoceh, "Kacamatanya baru Bu Rina? Bagus euy!". Bu Rina menjawab, "Tambah cantik gak?". Belum sempat Kimin menjawab, Si Bos malah menjawab, "Cantiiiik cantik.... Kayak pemeran lenong bocah.". Bu Rina menanggapi Si Bos, "Biarin! Pokoknya cantik.". Lain halnya dengan Bu Rina, Kimin malah tertawa mendengar jawaban Si Bos, "Hehe.. Si Bos mah.. Asal. Cantik kok Bu, cocok. Hehe..". Si Bos tetap menggodai Bu Rina, "Harusnya kamu tuh kalo ketemu orang-orang bilang gini Rin, 'Oy penontooooooon...!!!' trus d lanjut pantun. Gituuu..!". "Hahaha..." Kimin tertawa lagi melihat Si Bos yang terlihat lihai sekali melenong. Bu Rina membalas Si Bos, "Si Bos aja sana." jawabnya judes. Lantas Kimin bertanya pada Si Bos, "Si Bos kenapa betawi banget ya kayaknya? Aslinya mana sih Bos?". Sambil memainkan ponselnya, "Si Bos menjawab, "Aye asli dari India Min.". Bu Rina mentertawakan Si Bos, "Hahahahaha.. India kok sipit! Hahaha..". Kimin ikut-ikutan tertawa saja. Padahal sebenarnya ia tidak tahu apa yang lucu. Si Bos cuek saja seperti biasanya. Sambil terus sibuk memainkan game di ponselnya, Si Bos berkata lagi, "Yaudaah... Kalo nggak India, gue asli Arab..". "Hahahahahaha.... Sama aja!" sahut Bu Rina. Tiba-tiba Si Bos berkata, "Eh, maen ular tangga yuk!". Kimin menjawab, "Males ah..! Si Bos suka bikin aturan ndiri..!". Sedangkan Bu Rina menjawab, "Mending BBM'an deh daripada maen ular tangga ma Si Bos." lalu Bu Rina mulai memainkan ponselnya. Hari ini memang hari yang santai bagi para karyawan. Oleh sebab itu Si Bos merasa agak suntuk. Bukan karena ponselnya tidak menyediakan game. Namun Si Bos lebih menyukai mengisi waktunya bersama orang lain, bukan hanya dengan ponselnya sendiri. "Nggak mau ya udah.." kata Si Bos sambil mengeluarkan jajanan pasar dari dalam plastik berwarna hitam. Melihat makanan itu, Kimin berkata, "Ah..!! Saya lupa euy Bos..!! Kemarin istri saya bikin jentik manis.". Si Bos matanya langsung berapi-api, "Wah! Mau donk! Gue doyan banget tuh!". Kimin meneruskan, "Maka itu. Saya juga tau Si Bos doyan. Tapi saya lupa bawa euy... Besok saya bawain onde-onde deket rumah saya deh. Enak pisan Bos! Bener!" katanya sambil mengacungkan jempolnya. Bu Rina ikut menyahut, "Saya juga ya Min?" katanya sambil kedua matanya tetap memandang ponselnya. Dengan sedikit heran, Kimin bertanya, "Bu Rina doyan jajanan pasar?". Si Bos juga bertanya, "Hah? Kamu doyan Rin?" sambil mulutnya penuh dengan ketan yang berasal dari lemper. "Ih Si Bos jorok iiiiiih....!!" sahut Bu Rina. Lalu cepat-cepat Bu Rina mengambil tissue dan membersihkan dasi Si Bos yang terkena ketan dari dalam mulutnya. "Kalo makan jangan ngobrol Bos. Jorok ih muncrat!" katanya sambil terus membersihkan dasi Si Bos. Si Bos tetap menjilati jari-jarinya, membersihkannya dari sisa lemper, "Ah bisa di cuci ini. Ribet amat..". Kimin bertanya lagi, "Bu Rina doyan onde-onde?". Sambil memberikan tissue kepada Kimin, Bu Rina menjawab, "Tolong buangin Min..". Lalu Kimin menginjak tempat sampah yang dekat dengan kakinya, lalu membuang tissue itu ke dalamnya. "Ya doyan lah. Cuman kadang minyaknya banyak.. Makanya saya nggak doyan. Kalo yang di deket rumah kamu kan bersih, minyaknya juga nggak banjir gitu." kata Bu Rina. Si Bos bertanya kepada Bu Rina, "Emang pernah?!". Kimin menepuk dahinya dan berkata, "Oh iya yak! Kan Bu Rina dulu pernah beli ya? Lupa saya. Hehe..". Bu Rina menjawab Kimin dengan senyuman. Lalu Kimin menjawab, "Yaudah besok saya bawain." katanya sambil tersenyum senang. "Nih Min.." kata Si Bos sambil menyodorkan uang kepada Kimin. Kimin menolaknya, "Ah nggak usah Bos! Kan saya yang mau beliin.". Si Bos mengancam, "Eeeeiiiit...!!!". Kimin menjawab lagi, "Nggak usah Bos ah!". Si Bos benar-benar mengancam, "Gue naikin gaji lu sepuluh kali lipat nih?!". Lalu Kimin menjawab dengan sesal, "Ah Si Bos mah.." dan tangannya terulur menerima uang itu karena takut ancaman dari Si Bos.
Walau suasana sekarang sudah siang, namun kantor ini tetap tidak menunjukkan jam sibuknya. Dari tadi pagi, kantor ini terasa sangat lapang. Orang-orang yang mondar-mandir tidak sebanyak biasanya. Si Bos juga santai-santai saja di dalam ruangannya. Bu Rina juga sibuk dengan Twitternya sejak pagi tadi. Kimin sedang ketawa-ketiwi menonton televisi dari komputer Si Bos, "Hehe.. Kocak dah ni. Haha..". Si Bos berdiri di dekat kaca jendela. Tangannya terlipat di belakang. Matanya menerawang melihat langit dan bangunan-bangunan yang terlihat olehnya. Mobil-mobil terlihat begitu kecil dari jendela ini. Beberapa atap bangunan terlihat sejajar pandangan mata. Langit abu-abu kota Jakarta selalu menjadi lukisan pada jendela ini. Tiba-tiba lamunannya terbuyarkan oleh omongan Kimin, "Bos, mindah cenelnya gimana ya? Kok remotnya saya pencet-pencet ke tipi kok gak ngaruh Bos?" katanya dari balik meja Si Bos. Kemudian Si Bos membalikkan badannya dan melihat ke arah Kimin, "Remotenya di arahin ke tv tunernya, bukan ke cinema displaynya.". Kimin bertanya, "He? Kemana Bos? Ke tipi cyuner? Yang mana tuh Bos.". Kemudian Si Bos berkata, "Taroh jidat lu tu ah! Ribet amat si.. Mending kesini nih, ngeliat Jakarta dari atas.". Kemudian Kimin menaruh remotenya ke atas meja, dan meninggalkan kursi Si Bos. Kimin berjalan menuju Si Bos, dan berdiri di sampingnya. "Wah.. Ternyata Jakarta dari atas kayak gini ya?" kagumnya terhadap pemandangan yang baru dilihatnya itu. "Keren ya Bos ya?". Si Bos tersenyum dan mengangguk. Karena penasaran, Bu Rina beranjak dari sofa, dan menghampiri jendela. "Tolong matiin TVnya Rin.." kata Si Bos. Kemudian Bu Rina membelokkan langkahnya dan meraih remote TV. Tak lama kemudian Bu Rina ikut bergabung bersama mereka. Kimin masih saja terkagum-kagum; tangannya menelapak memegang jendela kaca itu. Kaca yang dihadapannya berembun karena nafasnya. "Apa yang lu liat Min?" tanya Si Bos. Kimin menjawab singkat, "Banyak.. Tapi burem. Ngembun!" katanya sambil mengusap-usap kaca jendela dengan tangannya. Kemudian Si Bos melihat ke sisi jauh dari pandangannya, "Apa yang kamu liat Rin?". Bu Rina menjawab dengan ragu-ragu, "Hmmmm... Gedung tinggi?". Kemudian Si Bos diam sebentar. "Keren ya?" tanya Si Bos. Bu Rina mengangguk, begitu juga Kimin. Lagi-lagi Si Bos bertanya, "Hebat ya Jakarta?". Kimin dan Bu Rina hanya menjawab dengan anggukan. "Tapi ini yang kalian lihat dari atas. Apa yang kalian liat dari bawah, nggak akan sekeren dan sehebat ini.". Bu Rina membenarkan posisi kacamatanya, "Maksud Si Bos?". Si Bos tersenyum sambil menjelaskan, "Kalo dari atas, kita bisa melihat kemegahan Jakarta. Betapa Jakarta tuh kota yang gede, kota yang kaya, banyak gedung-gedung tinggi.. Tuh air mancur HI aja keliatan tuh dari sini." katanya sambil menunjuk ke arah yang jauh. Kimin mengikuti arah yang ditunjukkan Si Bos. Sambil menajamkan pandangannya Kimin menyela, "Itu bukan air mancur HI kali Bos..". Bu Rina menambahkan, "Iya. Itu bukan bunderan HI tau Bos.". Si Bos tersenyum, "Emang.". Kimin dan Bu Rina saling berpandangan. Lalu Bu Rina bertanya, "Trus kok Si Bos bilang itu bunderan HI?". Si Bos tertawa, "Hehehe.. Ya biar kalian percaya aja. Itu tuh air muncrat. Ada kebocoran di situ. Tapi keliatannya kayak air mancur di HI kan?". Kimin meragukan, "Ah Si Bos mah ada-ada aja. Mana ada aer muncrat Bos..". Si Bos tersenyum ke arah Kimin, lalu melihat lagi ke arah air itu, "Rin, ambilin binocular yang ada di laci saya.". Lalu Bu Rina meninggalkan mereka berdua, dan mengambil binocular milik Si Bos yang tersimpan pada laci meja kerjanya. "Ini Bos.." kata Bu Rina sambil memberikan binocular itu kepada Si Bos. Lalu Si Bos menerimanya, "Thanks.." dan memberikannya kepada Kimin, "Coba liat pake ini.". Kimin langsung melongo, "Wah iya! Itu aer muncrat! Ada yang bocor tuh!". Bu Rina meminta binocular itu dari Kimin, "Mana coba liat!" katanya sambil memposisikan binocular itu di depan matanya, "O iya ya.. Wah di mana ya itu?". Si Bos hanya tersenyum lalu meneruskan ceritanya, "Nah... Gimana pendapat kalian tentang Jakarta dari atas? Kita bisa ngeliat kemegahannya, kehebatannya. Tapi kadang kita nggak bisa ngeliat kacaunya, remuknya, dan jelek-jeleknya. Kita cuman bisa melihat yang kayak gitu-gitu tuh dari deket. Kalo kita selalu di atas, kita cuman ngeliat semuanya seolah nggak ada masalah. Tapi kalo kita di bawah, kita bisa ngerasain masalah-masalah itu.". Sambil menikmati pandangan dari binocularnya, Bu Rina bertanya, "Saya masih nggak ngerti Bos..". Kimin menyela Bu Rina, "Ah.. Bu Rina gitu aja nggak tau. Itu tuh sindiran buat para pegawai negara ini lho Bu. Yang itu tuh, yang kerjanya cuman rapat-rapat trus makan duit rakyat tuh. Mereka kan selalu di atas, sok-sokan jadi penguasa. Mangkanya mereka ngeliat semuanya itu dari jauh, nggak pernah ngeliat dari deket. Hasilnya, yaaaaa duit rakyat ditilep aja. Mereka kan anggepnya kita-kita ini udah makmur.. Gitu kan ya Bos?" tanyanya sambil melihat ke arah Si Bos. Si Bos tertawa geli, "Hahahahaha... Ya itu bener sih, tapi yang gue maksud tuh bukan itu! Orang gue cuman mau jelasin kalo kita di atas sini, kita bisa liat semuanya, tapi kecil-kecil. Kalo kita di bawah sana, kita bisa ngeliat secara langsung. Bisa ngerasain langsung. Gitu...!! Ah elu Min, demen banget nyindir mereka. Macem penulis blog aja lu, suka nyindir orang-orang atas.". "Hahahahahahahaha......." lalu mereka bertiga tertawa puas. Selesai dengan tawanya, Si Bos berkata, "Naaah.. Kalo di atas terus, kita nggak bisa ngerasain yang di bawah. Betul nggak?". Kimin dan Bu Rina menjawab bergantian, "Betul.. Betul.". Si Bos mengambil ponselnya, dan berkata, "Naaah.. Kalo gitu mending kita jalan-jalan yuk di bawah! Kita jalan-jalan bareng Agus, trus nyari tempat nongkrong deh. Kita ngerasain ngupi-ngupi sambil makan cake di bawah sana. Setuju?!!". "Setujuuuuuu...!!" kata Kimin dan Bu Rina kompak.
Hidup memang tak selamanya di atas. Kadang memang seseorang perlu melakukan tinjauan ke bawah. Di atas terus, akan membuat kita lupa akan hal-hal kecil yang ada di bawah sana. Sedangkan di bawah terus, akan membuat kita semakin pesimis karena melihat hal-hal besar yang ada di atas. Dalam sebuah lift yang sedang menuju ke bawah, terdapat tiga orang manusia. Satu manusia perempuan dengan frame kacamata baru, satu orang pemuda pemilik perusahaan yang saat ini sedang menggunakan seragam office boy, dan seorang paruh baya yang menjabat sebagai OB istimewa sedang menggunakan setelan kemeja rapih lengkap dengan penjepit dasi bernuansa perak. Setiap lantai yang dilewati lift itu mendengar teriakan-teriakan dari dalam lift. Sayu-sayu dari lantai UG ikut terdengar ocehan-ocehan dengan nada tinggi. Lambat laun suara itu makin keras. Dan setelah pintu lift terbuka, Agus yang sudah siap di samping mobil sedan berwarna hitam itu, mendengarkan percakapan mereka bertiga, "Tapi kan ini ke coffee shop Rin! Namanya aja C O F F E E shop. Ya kopi lah!". Lalu seorang perempuan menjawab, "Ya kalo ngopi sekarang ya jadi nanti sore nggak ada jatah kopi donk? Bener nggak Min?". Orang setengah tua itu sibuk mengendurkan dasinya, "Iya sih Bos, bener Bu Rina. Sehari kan jatahnya dua cangkir kopi. Ini dasi kok sesek ya? Tolong donk Bos.. Bu Rina.. Sesek..". Sambil mengerenyitkan alisnya, Si Bos berkata, "Kalo nggak boleh ngopi, Kimin saya buang ke Disneyland nih!". Bu Rina menjawab, "Bodo. Nyalain mobilnya Gus.". Agus menjawab, "Iya.". Seorang yang berdasi itu masih saja ribut, "Sesek euy. Punten kang Bos, teteh Rina. Ieu kumaha?! Sesek dasina!".

0 comments:
Post a Comment