Pagi ini, Kimin terbangun dengan sejuta perasaan gelisah. Bagaimana tidak, ini adalah hari di mana Kimin akan menggantikan Bu Rina dikarenakan Bu Rina sedang "cuti ulang tahun". Semalam kemarin, Kimin tidak bisa tidur karena memikirkan semua tugas-tugas Bu Rina yang harus ia kerjakan hari ini. Bu Rina telah memberikan panduan kepada Kimin. Buku panduan itu berisi tentang segala kegiatan yang harus Kimin lakukan hari ini. Memang bukunya tidak tebal, hanya terdiri dari 5 hingga 10 lembar kertas berukuran A4. Tapi semuanya itu penuh berisikan tulisan-tulisan. Bu Rina juga menjelaskan kepada Kimin, bagaimana seharusnya dia bersikap, cara untuk melobby client, cara memesan tempat, kebutuhan-kebutuhan Si Bos, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas-tugas Bu Rina. Semalam kemarin, Kimin bekerja keras untuk menghafal dan mengerti isi manual book tersebut. Namun pada akhirnya tetap kejenuhan yang membawanya tertidur pulas. Dan pagi ini, Kimin terbangun lebih pagi. Jam tangan sudah di tangan kiri, manual book di tangan kanan, dan handphone di dalam kantong kanan. Kali ini Bu Rina memberikan handphone dengan fitur yang biasa-biasa saja. Hal itu dimaksudkan agar kejadian BB tidak terulang lagi. Setelah semuanya dirasa cukup, Kimin menanti di teras rumahnya. Tak lama Kimin menunggu di teras rumahnya, suara knalpot mobil memenuhi kampung itu. Kemudian tampaklah sebuah sedan hitam bergaya Amerika berhenti di hadapan Kimin. Kaca jendelanya terbuka perlahan, dan tampaklah Si Bos sedang duduk di belakang setir. Lalu Kimin bangkit berdiri, dan menghampiri Muscle Car berlogo kepala domba bandot itu. Ia membuka pintunya, masuk dan duduk di samping supir. Kemudian supir itu bertanya kepada Kimin, "Udah siap?". Kimin menoleh ke arah supir dan menjawab, "Insyaallah Bos..". Tak lama, mobil itu berlalu dengan meninggalkan raungan garangnya.
Monday, May 24, 2010
Thursday, May 20, 2010
Hari Bahagia, Hari Bencana (part 1)
Terhitung sejak hari pertama Kimin bekerja di perusahaan milik Si Bos, belum pernah dirinya merasa sesantai hari ini. Setiap hari Kimin selalu disibukkan oleh berbagai macam peristiwa dan pekerjaan. Seminggu yang lalu, Kimin berusaha mati-matian untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan badminton. Namun pada saat Kimin sudah mengerti aturan main badminton, musim badminton malah sudah berakhir. Beberapa karyawan jelas kecewa dengan kegagalan Indonesia meraih kembali piala Thomas dan Uber. Tapi lain halnya pada Kimin, dia lebih kecewa karena harus menunggu tahun depan untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan hebat itu. Lalu beberapa hari di kantor sedang trend akan ramalan-ramalan masa depan. Maka Kimin juga berusaha untuk selalu up to date tentang berita-berita itu. Baru saja Kimin berhasil mempelajari beberapa hal tentang ramal-meramal, malah Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya seorang peramal lihai. Padahal, Kimin begitu mengagumi sosok peramal itu karena menurut Kimin hasil ramalan Ibu Tua itu hampir seluruhnya tepat dan benar. Tetapi memang Tuhan berkehendak lain. Apa yang sudah menjadi rencana Tuhan, kita hanya bisa menerimanya dengan tangan dan hati yang terbuka. Hari ini, kantor sedang sibuk oleh trend baru yang bernama Foursquare. Seumur hidup, belum pernah Kimin mengikuti trend yang berbasis bahasa asing seperti ini, "Porskwer (Foursquare.red) apaan sih ya?" tanyanya dalam hati. Karena dorongan keinginan yang sangat kuat, Kimin memberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Rina, "Bu, porskwer apaan sih Bu?
Friday, May 14, 2010
Musim Badminton
Musim badminton memang sedang sangat menggema di Indonesia. Indonesia adalah negara yang cukup ditakuti di bidang bulu tangkis. Bagaimana tidak, negara kita sering mengukirprestasi yang luar biasa di berbagai pertandingan badminton dunia. Nama negara ini begitu harum ketika bintang-bintang badminton seperti Susi Susanti, Mia Audina, Harianto Arbi, dll, berhasil menjuarai Thomas Cup, dan Uber Cup. Kenangan prestasi yang sungguh sangat dibanggakan. Seiring waktu berjalan, aroma harum itu lama-kelamaan pudar. Para pemain-pemain baru belum mampu menyamai kemampuan-kemampuan para pendahulunya. Hal itu bisa saja disebabkan oleh kurangnya sarana dan prasarana yang diperoleh para atlit. Namun bisa juga itu terjadi karena negara-negara lain sudah sadar akan pentingnya seorang atlit sebagai aset yang sangat berharga bagi negara. Oleh sebab itu, negara-negara lain semakin memperketat latihan dan berusaha semaksimal mungkin untuk membentuk para atlitnya menjadi manusia-manusia super. Bulan ini, merupakan bulan penuh keringat dan sorak-sorai. Hampir tiap orang berlomba-lomba memberikan dukungan pada masing-masing pahlawan dalam dunia olah raga bulu tangkis. Mulai dari warung pinggir jalan, cafe, restoran, pangkalan ojek, rumah, bahkan kantor Si Bos; semuanya tidak mau ketinggalan menyaksikan peristiwa penting ini.
Tuesday, May 11, 2010
Life Is Just Like This
"Waaaaah.... Langitnya keren Booooos...." begitulah komentar Kimin ketika melihat langit sore ini. Dari balik jendela ruangan direktur, langit sore ini berwarna keemasan. Sangat indah dan memikat hati Kimin. Namun lain halnya dengan Kimin, Si Bos lebih memilih untuk menikmati kesibukannya sore ini. Setumpuk kertas laporan menghiasi meja kerjanya, dan harus segera dibereskan. Begitu halnya Bu Rina yang sama sibuknya dengan Si Bos. Tetapi Bu Rina masih menyempatkan diri untuk menikmati langit sore yang indah ini, walau hanya sebentar. Kimin terus saja melongok keluar jendela untuk berdecak kagum melihat hasil karya kebesaran Tuhan. Tiba-tiba Si Bos memecah keheningan di ruangan direktur, "Min.. Lo kalo mau pulang dulu gak papa. Soalnya gue bakal lama nih. Rin, kamu juga kalo mau pulang dulu gak papa." kata Si Bos menyadari keadaan kedua karyawannya yang terlihat sudah lelah. Biarpun menyadari dirinya juga sudah lelah, tapi Si Bos merasa masih mempunyai kewajiban dan tangung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama, Kimin menghadapkan badannya kepada Si Bos dan berkata, "Saya bersih-bersih pantry dulu deh Bos..", Si Bos menjawab, "Oke." katanya singkat. Kimin mengambil gelas kopi dari hadapan Si Bos, dan keluar meninggalkan ruangan. Dalam perjalanannya menuju pantry, Kimin sempat berpikir, "Kasian Si Bos.. Kerjaannya masih banyak.". Sambil mencuci gelas Si Bos, Kimin memperhatikan segala tindakannya, agar tidak lagi memasukkan busa sabun cuci ke dalam mulutnya. Hari ini lidah Kimin sudah membaik. Itu berkat pertolongan Si Bos yang cepat tanggap untuk mengeluarkan racun lebah, dan mengkompres lidah Kimin menggunakan es.
Monday, May 10, 2010
Lebah VS Kimin
Seekor lebah sedang hinggap di sebuah bunga yang mekar pagi ini. Bunga itu tampak senang karena dapat membagi nektarnya kepada sang lebah. Lebah itu begitu menyibukkan dirinya untuk masuk ke rongga-rongga bunga itu, dan berusaha mengambil nektarnya untuk dibawanya pulang ke kerajaannya. Setelah merasa perbekalan nektarnya mencukupi, lebah itu pergi meninggalkan bunga berwarna kuning itu, dan terbang cepat menuju ke sarangnya untuk menyetorkan hasil nektarnya hari ini. Di tengah perjalanan, lebah itu melihat segumpalan cairan yang sangat manis kelihatannya. Cairan itu sangat banyak jumlahnya, hingga jika lebah itu mampu membawanya pulang, pastilah sang ratu senang karena cairan itu dapat menghidupi seratus turunan kerajaan lebah pada periode 2010 ini. Gumpalan cairan raksasa itu berwarna kuning keemasan, dan sangat menggoda. Tanpa melepaskan perbekalan nektar dari bunga tadi, lebah itu terbang bergegas menuju gumpalan cairan yang manis sekali kelihatannya. Sesampainya di dekat cairan kuning keemasan itu, lebah tersebut berusaha untuk membawanya pulang kembali ke sarangnya. Namun apa yang terjadi? Ternyata cairan itu diselubungi oleh selaput bening yang sangat kuat sehingga tak kuasa dia menembusnya. Gumpalan raksasa cairan keemasan yang menggoda itu sangat sulit diraihnya! Ditengah usahanya untuk mengambil cairan itu, lebah tersebut melongok ke atas, dan dilihatnya sesosok raksasa besar dan agak botak, sedang asyik menyedot cairan itu melalui sebuah pipa berwarna merah.
Sunday, May 9, 2010
Roti Isi Kismis
Matahari sudah berada di ufuk timur. Daun-daun hijau telah bersemangat menyambut pagi, dan embun-embun sudah menyadarkan setiap burung-burung untuk mengicaukan nyanyian-nyanyian pagi. Di dua tempat yang berjauhan, terbangunlah dua sosok makhluk hidup yang biasa kita sebut sebagai Si Bos dan Kimin. Pagi ini dua orang itu bangun bersamaan (walau sebenarnya mereka tidak mengetahui peristiwa ini; satu sama lain). Pada saat terbangun, mereka berdua memiliki perasaan yang sama. Dalam sebuah apartment kelas atas, terbangunlah Si Bos dengan pikiran, "Kok langsung mikir Kimin ya?". Sedangkan di dalam sebuah kamar tidur yang kecil ditengah sebuah kampung, Kimin terbangun dengan pikiran, "Kok langsung mikir Si Bos ya?". Dua manusia ini telah terikat secara batin (walau sebenarnya mereka tidak mengetahui ikatan ini; satu sama lain).
Saturday, May 8, 2010
Batuk
Kembali sudah gerombolan manusia terkenal ini ke habitat asalnya. Surabaya hanya tinggal kenangan yang sudah terlewati. Pagi ini, Kimin sudah siap duduk manis di kursi berlabel “KIMIN”, dan bersiap menunggu kedatangan Si Bos. Tepat lima menit sebelum pukul sembilan, manusia yang dinantikannya datang; berjalan berombongan, hiruk pikuk dan penuh dengan muka-muka serius. Tak lama, rombongan itu sampailah di depan sebuah pintu. Lalu mereka semua menghentikan langkahnya, dan ocehannya. Satu dari antara mereka langsung berteriak seperti biasa, “Miiiiiiin……?!”, “Iya Boooooos…..?” teriak Kimin sambil tetap duduk di kursi kebanggaannya itu. “Kopi Miiiiiiin……” kata orang muda itu sambil tersenyum, lantas Kimin menjawab seperti biasanya, “Siap Boooooooos….”. Password itu akan terus diucapkan oleh kedua orang itu, dan akan berulang terus setiap harinya. Pada posisi yang sama, kata-kata yang sama, dan tentu saja oleh dua orang yang sama.
Thursday, May 6, 2010
Garage Sale = Diskonan Garasi
Surabaya kota Pahlawan. Slogan itu memang pantas diberikan kepada kota ini. Bagaimana tidak, tidak sedikit para pahlawan kemerdekaan Indonesia yang berasal dari kota ini. Hingga kini, kota ini masih menghasilkan orang-orang yang patut diberikan predikat PAHLAWAN. Salah satunya adalah Kimin. Walaupun terlahir sebagai orang Sunda, namun bakat kepahlawanannya mulai terlihat di kota Surabaya. Pagi-pagi benar, Kimin berjasa memberikan resep kopi yang baru kepada Si Bos; biasanya Kimin mengaduk kopi searah jarum jam, hari ini Kimin mengaduk kopinya berlawanan arah jarum jam. Menurut Kimin itu adalah satu resep baru yang sangat sensasional. Selain itu, pagi ini Kimin sangat berjasa dalam menyiapkan air mandi untuk Si Bos. Walaupun pada akhirnya Si Bos tidak jadi mandi di bath-up. Sebaiknya Kimin diberikan pangkat “Pahlawan Pagi yang Rajin Melakukan Hal-hal Kurang Penting”.
Wednesday, May 5, 2010
Kerja Keras Terbayar Sudah
Habis sudah delapan hari di Surabaya. Hari ini hari ke-sembilan untuk Si Bos, Bu Rina dan Kimin berada di Kota Pahlawan; hari di mana pekerjaan kunjungan untuk kota ini sudah terselesaikan dengan baik. “Haduuuuuh…. Akhirnya kelar juga ya..” kata Si Bos kepada Bu Rina. Saat ini jam empat sore, dan para karyawan bersiap untuk pulang, Kimin bersiap untuk beberes kantor, Si Bos dan Bu Rina bersiap untuk merayakan kesuksesan mereka menyelesaikan pekerjaan di Surabaya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari manusia-manusia itu menginap di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kamar hotel yang sebelumnya sudah disewa, terpaksa tidak dihuni, dan hanya berguna sebagai tempat untuk menitipkan baju dan barang bawaan. Sambil menjatuhkan badannya ke sofa di kantor direktur, Bu Rina melepaskan lelah dan penatnya, “Haaah… Akhirnya ketemu juga masalahnya ya Bos.” kata Bu Rina kepada Si Bos. Lanjut Bu Rina, “Gimana.. Mau dirayain nggak Bos?”, Si Bos menjawabnya, “Fiuufh.. Mau di mana? Mau ngerjain Kimin lagi di pasar Atom?”, “Hahahahaha…” keduanya tertawa mengingat kejadian Kimin dibuat tersesat di Pasar Atom beberapa hari yang lalu. Pada saat itu muka Kimin terlihat sangat pucat karena menyadari bahwa Kimin ditinggalkan oleh dua temannya itu. Matanya mencari-cari sosok yang pergi bersamanya ke Pasar Atom. Sedangkan Si Bos dan Bu Rina mengamati tingkah laku Kimin dari jauh sambil tertawa melihat kelakuan OB Favorit itu. Kimin berjalan tak tentu arah, dan setiap orang yang ditemuinya kala itu, ditanya “Maaf pak, saya nyasar. Kenal Bos saya nggak? Tingginya sedang, pake kaos warna putih, rambutnya ditata pake gel, kelakuannya kayak orang sakit jiwa. Kenal pak?”. Tentu saja semua orang yang ditanyai Kimin menunjukkan wajah heran dan blo’on. Mungkin pikir mereka, “Oy..!! Siapa elu siapa gue?!”.
Tuesday, May 4, 2010
Rahasia Si Bos
Masih di Surabaya, di kota yang sama panasnya dengan Jakarta. Bedanya, kalau di Jakarta panas yang dihasilkan sudah tercampur dengan polusi udara yang mematikan. Sedangkan di Surabaya, panas yang dihasilkan berasal dari kepala Si Bos dan Bu Rina, karena kerjaan tak kunjung kelar. Si Bos memperkirakan bahwa kunjungannya ke Surabaya akan berakhir dalam kurun waktu seminggu. Namun ternyata prediksi itu meleset sama sekali. Sudah hari ke-enam di Surabaya, Si Bos dan Bu Rina masih belum menemukan titik terang akan masalah produksi di kantor ini. Sejak hari ketiga Si Bos dan Bu Rina sudah uring-uringan karena masalah yang tak kunjung kelar. Beda halnya dengan Kimin, dia tetap enjoy menjalani hidup; berkenalan dengan orang-orang baru, belajar bahasa Jawa, dan tersesat di pasar atom.
Monday, May 3, 2010
Tragedi Secangkir Kopi
Si Bos, Kimin dan Bu Rina sedang berada di Surabaya saat ini. Mereka bertiga sampai di Surabaya pada hari kemarin. Sesampainya di Surabaya, mereka langsung memasuki kamar hotel dan beristirahat sebentar. Lalu menuju restoran yang terletak di lantai bawah, dan mulai makan siang bersama. Setelahnya, mereka langsung bergegas menuju mall yang ada di Surabaya, untuk membeli beberapa baju untuk Si Bos. Maklum, untuk pergi ke Surabaya, Si Bos hanya membawa ponsel hitam berlogo apel, charger ponsel, laptop, dan charger laptop. Hanya itu. Oleh sebab itu, sesampainya di Surabaya, Bu Rina kerepotan untuk membelikan kemeja, celana bahan, kaos kaki, sepatu dan dasi untuk Si Bos. Bu Rina membeli beberapa pasang, karena mereka bertiga akan berada di Surabaya selama seminggu.
Sunday, May 2, 2010
Perjalanan Kerja, Bukan Tamasya
Pagi ini bersinar sangat cerah, secerah muka karyawan yang barusan terima gaji. Kimin bangkit dari tempat tidurnya, tersenyum sebentar, kemudian bersyukur kepada Yang Kuasa atas pemberian hari yang indah dan umur yang panjang. Kimin memang seseorang yang taat beribadah. Selesai semuanya itu, Kimin menuju kamar mandi untuk melakukan ritual gosok gigi, “bongkar muatan”, dan mandi. Hari ini Kimin keramas dengan sampo baru; sampo yang baru saja diberikan Bu Rina keapadanya. Maklum saja, Bu Rina adalah manusia penuh style dan selalu menjaga kebersihan. Hal itu sangat bertolak belakang dengan sosok Si Bos yang jarang mandi (apalagi keramas). Terkadang memang hal itu mengganggu Bu Rina dan Kimin, karena kalau Si Bos sudah lama menginap di kantor, biasanya Si Bos tidak mandi untuk beberapa hari. Bisa jadi beberapa minggu.
Saturday, May 1, 2010
Tidak Mau Sibuk
Sudah seminggu sejak Kimin dan BBnya menjalani hidup bersama-sama. Hingga tulisan ini diturunkan, Kimin masih belum mengerti benar bagaimana cara menggunakan BBnya. Sejak hari dimana Si Bos memberikan BB, Kimin merasa menjadi orang yang sangat populer di kantor itu. Bagaimana tidak, setiap saat, setiap waktu, BBnya selalu berbunyi menyerukan ringtone dan berkata, “Dimana Min? Si Bos sama kamu gak?”, atau mungkin “Min, Si Bos dimana? Lagi sibuk gak Si Bosnya?”. Bukannya menghubungi Si Bos langsung, melainkan para karyawan lebih memilih untuk menghubungi Kimin sebagai perantara Si Bos. Si Bos sangat susah di hubungi karena terlalu sibuk, sedangkan Kimin selalu tahu bagaimana keadaan Si Bos pada saat itu. Selain itu, Kimin memang cenderung lebih sering menghabiskan waktu bersama Si Bos. Jadi kenapa tidak para karyawan itu menghubungi Kimin untuk mengetahui kondisi Si Bos.
Subscribe to:
Posts (Atom)
